Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Renungan Tumpek Uduh Saniscara 21 Februari 2009

Lestarikan Alam Tak Ubahnya Rawat Diri Sendiri. Setiap rerahinan gumi di Bali sesungguhnya mengandung ajaran atau pesan yang amat mulia. Termasuk, rerahinan Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag atau dikenal juga dengan sebutan Tumpek Wariga, Sabtu (21/2) hari ini. Rerahinan yang jatuh setiap enam bulan itu mengandung pesan pelestarian alam. Karena itu, alam perlu dirawat agar lestari. Mengawal atau melestarikan alam (makrokosmos) tak ubahnya merawat diri sendiri (mikrokosmos).

DOSEN IHDN Denpasar Drs. Made Girinata, M.Ag. dan Drs. Made Surada, M.A. Jumat (20/2) kemarin mengatakan, pada rerahinan Tumpek Uduh ini umat memuja Dewa Sangkara, manifestasi Tuhan penguasa tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi itu sangat berguna bagi kehidupan manusia. Karena itu, umat mesti bersyukur kepada Sang Pencipta, melalui ritual Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga. Dalam konteks itu yang dipuja bukanlah tumbuh-tumbuhan, tetapi umat mengaturkan bakti kepada Tuhan yang telah memberi kekuatan atau kesuburan hidup berbagai tumbuhan. Pada Tumpek Uduh, umat umumnya mengaturkan sesajen pada pohon-pohon produktif, seperti kelapa, pisang dan pohon buah-buahan lainnya - -mengucap puji syukur ke hadapan Tuhan. Pohon-pohon itu diupacarai mewakili tumbuh-tumbuhan yang lain, karena paling sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari atau paling 'dekat' dengan kehidupan umat manusia.

Girinata yang Dekan Fakultas Dharma Acarya IHDN ini menambahkan, tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang ada di alam semesta ini sangat membantu umat manusia. Bisa dibayangkan, jika umat hidup tanpa tumbuh-tumbuhan. Karena itu, ada etika dalam pemanfaatannya. Misalnya, ketika umat Hindu di Bali menebang pohon, ada etika yang mesti dijalankan. Sebelum pohon ditebang, umumnya umat memohon izin dulu kepada Tuhan. Setelah pohon ditumbangkan, bekas potongan itu ditancapkan ranting atau pucuk pohon. Ini sesungguhnya mengandung makna simbolik bahwa umat diingatkan melakukan penanaman kembali. Satu pohon ditebang, paling tidak di bekas tebangan itu ditanami satu pohon baru.

Hal senada dikatakan Made Surada yang Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN. Melalui ritual Tumpek Wariga, umat Hindu sesungguhnya diingatkan agar tetap melestarikan alam. Di Bali, pesan pelestarian alam itu dikemas dengan teologi dan budaya lokal yakni Tumpek Wariga atau Tumpek Uduh. Sebab, jika alam rusak, dampaknya akan buruk bagi kehidupan manusia.

Dalam Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan dan air adalah pelindung manusia. Bahkan, dalam Reg Weda disebutkan, tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa yang sama dengan manusia. Karena itu kita mesti menjalankan ajaran tatwam asi dalam memperlakukan alam. Jika alam rusak atau sakit, kita wajib mengobatinya atau merawatnya. Merusak alam berarti juga menyakiti diri sendiri. Karena itu peliharalah alam agar terjadi keharmonisan. Tumbuh-tumbuhan juga penghasil O2 yang amat diperlukan oleh manusia. 'Dalam konteks mengantisipasi terjadinya pemanasan global (global warming), tampaknya spirit Tumpek Uduh penting dimaknai,' kata Girinata dan Surada.

Sementara itu, dosen Unud yang Ketua Umum Pasemetonan Pangeran Mas Dalem Blambangan Provinsi Bali Ir. Ida I Dewa Oka Widyarshana, M.Si. sempat mengatakan, benteng kokoh spiritual yang senantiasa melandasi perikehidupan kita adalah tatwam asi. Spirit tatwam asi itulah yang mesti diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam memperlakukan alam semesta (bhuwana agung) ciptaan Hyang Widhi Wasa. Menjaga dan mengawal bhuwana agung tak ubahnya merawat dan memelihara diri sendiri (bhuwana alit). Hal itu dikatakan Widyarshana saat Mahasabha I Pasemetonan Pangeran Mas Dalem Blambangan Provinsi Bali di Wantilan Pura Dalem Jawi, Puri Agung Bunutin, Bangli, Minggu lalu.