Maturan Ke Pura Besakih

Susunan Sembahyang atau Maturan ke Pura Besakih, Sejumlah Pura Kahyangan jagat berada di wilayah Kabupaten Karangasem. Salah satunya yang sudah tak asing lagi bagi umat Hindu di Bali adalah Pura Besakih. Pura Besakih sebagai purwa rajya (sentral), hendaknya semua pihak menjaga kesuciannya. Jika kesucian pura di kaki barat Gunung Agung itu terjaga maka akan tetap memancarkan vibrasi kesucian kepada Bali dan umatnya. Bagaimana sejarah Pura Besakih? Pura-pura apa saja yang ada di areal pura terbesar di Bali itu ?

Pengamat agama Drs. IBG Agastia pernah mengatakan terkait masa lalu keberadaan Pura Besakih banyak terdapat legenda, serta mitologi lisan maupun tertulis. Sastra sejarah seperti babad, usana dan purana cukup banyak, baik menjadi koleksi pribadi terkait keluarga tertentu yang memiliki pedharman, sementara yang menyangkut Besakih secara keseluruhan adalah Raja Purana Besakih.
Agastia dalam sebuah tulisannya mengatakan, Rsi Markandeya disebut-sebut sebagai orang suci pertama kali menanam panca datu sebagai dasar Pura Besakih. Pura ini memiliki perjalanan panjang, pada perkembangannya kini menjadi pusat bagi masyarakat Bali.

Cerita pengabdian penuh bakti Sang Kulputih, seorang tukang sapuh di Besakih, bisa kita baca dalam lontar Sangkulpinge. Namun, kata Agastia, yang lebih memiliki nilai sejarah adalah usaha-usaha Mpu Kuturan yang kemudian dikenal sebagai pendiri Pura Sad kahyangan di Bali. Berikutnya, Mpu Bharadah yang merupakan saudara kandung Mpu Kuturan -- pandita Kerajaan Airlangga -- melanjutkan kembali penataan Pura Besakih. ''Sebuah prasasti yang dinamai Mpu Bharadah yang disimpan di Pura Batu Madeg Besakih, memuat tahun Saka 929 (1007 M), rupanya merupakan masa kedatangan Mpu Bharadah di Besakih,'' tulis Agastia yang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali ini.

Berikutnya kehadiran Dang Hyang Nirartha (Dang Hyang Dwijendra) sebagai pandita Kerajaan Gelgel zaman Raja Dalem Waturenggong -- sangat besar peranannya dalam menata kembali kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Termasuk kemudian menata kembali Pura Besakih dan tata upacaranya. Dang Hyang Dwijendra pernah menyarankan Raja Waturenggong untuk menggelar upacara Eka Dasa Rudra di Besakih, sekalian dengan runtutan upacaranya sebagaimana kini kita warisi.

Agastia mengatakan, bila mengikuti langsung pelaksanaan upacara besar di Besakih seperti Eka Dasa Rudra (tiap 100 tahun) atau tawur sepuluh tahunan Panca Walikrama, barulah kita bisa mengetahui secara simbolis Besakih adalah madyaning bhuwana (sentralnya dunia). Merupakan tempat pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dengan manifestasinya (kekuatannya) yang menguasai semua penjuru dunia, yakni Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambhu. Ini sesuai dengan konsep pengider-ider bhuwana. ''Dari sini pula umat Hindu memohon kerahayuan bhuwana, keselamatan seluruh jagat,'' tandas Agastia.

Sementara itu, menurut IBM Dharma Palguna, Pura Besakih adalah gugusan 86 buah pura. Kompleks Pura Besakih terdiri atas 18 buah pura umum, 4 pura Catur Lawa, 11 pura pedharman, 6 pura non-pedharman, 29 pura dadia, 7 pura berkaitan dengan pura dadia dan 11 pura lainnya.

Perlu Perhatian Pusat

Namun, banyak pihak menilai perhatian untuk daerah satu-satunya yang tertinggal di Bali itu belum cukup. Sebagai daerah di mana di wilayahnya banyak terdapat pura besar, menjadi tanggung jawab warga Karangasem untuk menjaganya baik dari secara niskala (kesuciannya) maupun skala (keamanan dari rongrongan orang tak bertanggung jawab).
IBG Agastia saat melakukan pertemuan beberapa waktu lalu dengan sejumlah tokoh masyarakat di Karangasem mengatakan, pemerintah pusat mesti memberikan perhatian lebih kepada keberadaan Pura Besakih. Soalnya, pura itu menjadi milik umat Hindu di seluruh Indonesia. Sama halnya rumah ibadah besar yang bisa menjadi lambang bagi eksistensi umat beragama lainnya. Perhatian menyangkut penataan ke depan dan dana pemeliharaannya yang tentu tak kecil, mesti dianggarkan dalam APBN.
Agastia mengatakan, Besakih menjadi kiblat dan pemersatu umat di Bali. Karena kebesarannya -- dan kini telah memiliki daya tarik wisata -- menjadi tantangan untuk menjaga kesuciannya. Hal itu terutama perlu diwaspadai dari oknum tertentu yang tidak berkepentingan.

Agastia menunjuk salah satu sorotan masyarakat tentang banyaknya anjing liar di kompleks pura yang tak sedap dipandang mata, seperti terkena penyakit kudis dan penyebab kesan kotor. Tanpa banyak ikut memberikan perhatian, namun cuma melihat sesaat, sorotan itu memang bisa benar.

Namun jika diperhatikan, keberadaan anjing di Pura Besakih, kata Agastia, sama halnya dengan keberadaan komunitas kera di sejumlah pura seperti di Pura Uluwatu, Alas Kedaton, Sangeh atau di Air Sanih, Buleleng. Menurutnya, jika diperhatikan dengan seksama dan perasaan spiritual maka anjing yang biasa berada di kompleks Pura Besakih terlihat berbeda dengan yang berada di rumah-rumah penduduk. Keberadaan anjing di areal Pura Besakih itu bisa dipandang sebagai penjaga pura, pada saat manusia luput dari penjagaan 24 jam dan sampai hal yang terkecil.

Dikatakannya, jika sudah menyadari tak sedap melihat anjing yang terkena penyakit kudis, menjadi kewajiban untuk memberikan perhatian. Misalnya, dalam periode tertentu melakukan kerja sosial memberikan pengobatan kepada anjing-anjing itu.

Kesadaran
Usai bersembahyang, kata dosen STKIP Agama Hindu Amlapura Drs. IP Arnawa, S.Ag., M.Si., pemedek hendaknya dengan kesadaran bakti tak meninggalkan begitu saja sisa sarana persembahyangan yang sudah tak terpakai sebagai sampah berserakan. Namun, mesti ngaturang ayah melakukan pembersihan dengan membawa sampah itu ke tempat semestinya. ''Bukankah ngaturang ayah menjaga dan melakukan kebersihan merupakan salah satu wujud bakti kepada Tuhan?'' ujar Arnawa.

Arnawa mengatakan, terkait dengan penataan, mesti selalu berpedoman pada Raja Purana Besakih. Sebab, di sana akan tertuang tata nilai dan filosofinya. Berbagai karya pujawali, menyangkut upakara bebantenan juga terkandung. ''Jadi tak cukup sembahyang cuma dengan sarana canang sari, dupa dan tirta semata,'' ujar Arnawa yang juga Ketua Peradah Karangasem ini.
Menurutnya, Pura Besakih sebagai purwa rajya (sentral), hendaknya semua pihak menjaga kesuciannya. Soalnya, jika kesucian pura di kaki barat Gunung Agung itu terjaga, maka akan tetap memancarkan vibrasi kesucian kepada Bali dan umatnya. * gde budana

Persembahyangan Dimulai dari Pura Manik Mas

SEMBAHYANG
ke Pura Besakih ada tata caranya. Selain dari semula niat berangkat sembahyang mesti didasarkan atas kesucian lahir dan batin, sebaiknya dimulai dari Pura Manik Mas.

Tujuannya, kata Klian Desa Pakraman Besakih I Wayan Gunatra, Senin (19/12) kemarin, agar tercapai pendakian spiritual. Namun, kata Gunatra kini telah banyak berubah di Besakih. Terutama jalan untuk bisa mencapai Pura-pura di kompleks Pura terbesar di Bali itu kian banyak--bisa dari arah barat (Desa Pempatan) atau dari selatan (Menanga) atau dari timur (lewat Desa Batusesa).

Keadaan itu kerap menjadikan pamedek sering tak lagi menjalankan ketentuan atau kelaziman. Sebenarnya, itu tak salah. Namun dari segi etika pendakian spiritual, ada kekurangan kesempurnaan. ''Kalau ingin lebih sempurna dan khidmat dalam pendakian spiritual, sebaiknya tiap kali sembahyang ke Besakih dimulai dari Pura Manik Mas,'' ujar Gunatra.

Dulu saat masih zaman kerajaan raja-raja di Bali pun, yang hendak sembahyang ke pura itu selalu berhenti dan menambatkan kudanya sebelum Pura Manik Mas. Lalu raja diikuti keluarga atau pengiringnya berjalan kaki sembahyang dari Pura Manik Mas, seterusnya ke atas.
Usai mohon sembahyang dengan tujuan mohon izin (anugraha) tangkil di Pura Manik Mas, barulah ke pura pedarman. Berikutnya sesuai tujuan penangkilan, apakah ke pura yang termasuk catur loka pala (empat pura yang memiliki palebahan besar mengelilingi Pura Penataran Agung). Catur loka pala itu, yakni Pura Kiduling Kreteg, Pura Batu Madeg, Pura Gelap dan Pura Ulun Kulkul. ''Kalau pun tak sempat, seperti alasan sedikit waktu, usai sembahyang di Pura Pedarman bisa langsung ke Penataran Agung. Soalnya, Pura Penataran Agung merupakan sentral,'' papar Gunatra.

Gunatra mengatakan diperlukan kesadaran semua pihak untuk ikut menjaga kesucian Pura Besakih. Terlebih Besakih menjadi Pura yang mempunyai daya tarik wisata dunia. Dengan dibukanya banyak jalan dan pintu masuk guna mempermudah akses menuju pura, ternyata kemudian menimbulkan tantangan tersendiri untuk melakukan pengamanan--juga terkait menjaga kesuciannya.

Gunatra mengatakan selama ini pihaknya sudah menyampaikan himbauan kepada krama Besakih, para pecalang serta yang terkait agar menjaga kesucian Pura dan citra Bali. Hal itu terutama terkait masih adanya sorotan tentang ulah oknum pramuwisata--diduga yang liar--memperlakukan pengunjung dengan cara tak profesional. ''Pramuwisata khusus lokal di kompleks Pura Besakih telah memiliki wadah, sudah dilengkapi kartu identitas dan beberapakali mengikuti diklat,'' ujar Gunatra. (bud)
sumber : balipost
Admin
Admin Terimakasih sudah mengunjungi situs kami. Jika terdapat kesalahan penulisan pada artikel atau link rusak dan masalah lainnya, mohon laporkan kepada Admin Web kami (Pastikan memberitahukan link Artikel yang dimaksud). Atau bagi anda yang ingin memberikan kritik dan saran silahkan kirimkan pesan melalui kontak form di halaman Contact Us