Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Nasib atau Karma

DALAM kehidupan ini, kadang-kadang kita mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Masalah tersebut seakan-akan membawa Anda pada titik yang terendah dalam hidup ini. Masalah muncul silih berganti, bagaikan gelombang yang tidak pernah ada habisnya. Hidup terasa berada di jalan buntu atau di jalan yang tidak ada ujungnya, bagaikan sumur tanpa dasar. Hal seperti ini tentu pernah Anda alami.

Ketika berada dalam badai kehidupan, banyak orang yang tidak bisa menerima kondisi yang terjadi. Mereka menyalahkan orang lain. Dalam doa pun, mereka menyalahkan makhluk lain yang tidak terlihat. Atau mereka mengeluhkan sebagai nasib yang harus dijalani. Umat Buddha berkilah dengan mengatakan sebagai kamma buruk yang harus diterima dalam hidup ini.

Dengarkan kawan-kawan Anda atau siapa saja yang Anda temui. Setiap orang mempunyai masalah hidupnya masing-masing. Beberapa masalah bisa mereka terima setelah beberapa lama. Beberapa yang lainnya tetap tidak bisa diterima dengan lapang dada. Mengapa hal ini harus terjadi pada diri saya? Mengapa tidak pada orang lain, pada musuh saya? Sejumlah pertanyaan bermunculan tanpa ada jawabannya.

Hidup penuh dengan warna-warni. Ada senang dan susah, tawa dan tangis, untung dan rugi, pujian dan makian, bahagia dan sedih, serta yang lainnya. Apapun warna kehidupan yang sedang Anda jalani, tidak lepas dari apa yang Anda lakukan dalam kehidupan ini. Kalau Anda percaya dengan kehidupan sebelumnya, warna-warni tersebut mungkin merupakan bagian dari kehidupan Anda sebelumnya yang muncul pada saat ini karena kondisinya tepat.

Coba Anda berhenti sejenak dan renungkan apa yang telah terjadi dalam hidup Anda. Apa yang terjadi pada saat ini dan apa yang Anda miliki tidak lepas dari perbuatan yang kita lakukan beberapa saat yang lalu, beberapa jam yang lalu, hari, minggu, bulan, atau beberapa tahun yang lalu. Juga tidak lepas dari akibat-akibat dari kamma masa lalu. Semuanya berakumulasi sehingga mengkondisikan Anda yang sekarang.

Inilah sebuah hukum yang universal, sebuah rangkaian sebab akibat yang saling berhubungan. Sebab yang satu akan menimbulkan akibat, membuat Anda melakukan perbuatan baru, akibat baru, dan seterusnya tanpa henti. Hidup hanyalah rangkaian sebab dan akibat yang terus menerus.

Kalau pada saat ini Anda menghadapi masalah, coba berhenti sejenak dan renungkan apa yang telah terjadi sebelumnya, apa yang telah Anda lakukan, apa yang telah Anda putuskan. Dalam hidup ini, tidak ada sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Semua pasti ada sebabnya dan akan menghasilkan akibat. Kita hanya melihat akibat yang buruk tanpa pernah menyadari bahwa perbuatan buruk kita sendiri yang telah menimbulkan akibat.

Ketika akibat buruk tiba, banyak orang yang mengatakan sebagai nasib; sesuatu yang sudah tidak bisa diubah lagi. Ada pula yang mengatakan sebagai kamma buruk dari masa lalu, yang harus diterima dan dijalani dalam hidup ini. Nasib dan kamma buruk seakan-akan menjadi kambing hitam atas segala permasalahan yang ada dalam hidup Anda. Akibatnya, hidup terasa bagaikan jalan tanpa ujung, jalan buntu, atau sumur tanpa dasar.

Masalah yang ada bukanlah nasib yang tidak bisa ubah. Masalah Anda juga bukan sepenuhnya dari kamma buruk di masa silam. Apapun yang terjadi dalam hidup ini merupakan perpaduan dari banyak faktor, yang menjadi satu sehingga kondisinya tepat, yang akhirnya muncul dalam kehidupan ini. Anda sendiri yang mengkondisikan, secara langsung maupun tidak langsung. Anda sendiri yang membuatnya berbuah sehingga dia muncul dalam hidup ini.

Oleh karena itu, berhentilah sejenak dan lihatlah apa yang telah Anda lakukan dalam hidup ini; baik atau buruk. Kondisi baik akan menghasilkan akibat yang baik. Demikian pula sebaliknya, kondisi buruk akan menghasilkan akibat yang buruk. Kita sendiri yang menciptakan kondisinya dan kita sendiri yang akan mendapatkan hasilnya.

Kondisikan yang terbaik untuk hidup Anda. Ketika semuanya sudah dikondisikan dengan baik namun hal yang buruk tetap terjadi, mau tidak mau, kita harus menerima dengan lapang dada. Mungkin ini merupakan bagian yang harus terjadi dalam hidup ini. Pada titik ini, barulah kita mengatakan sebagai nasib atau kamma buruk yang sedang berbuah.