Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Rangkaian Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Besakih Tahun 2009

Melasti melalui 28 Desa PakramanSERANGKAIAN Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Besakih digelar prosesi melasti ke Segara Watu Klotok, Klungkung. Bendesa Pakraman Besakih Wayan Gunantra mengatakan, dalam rangka pelaksanaan upacara melasti panitia sudah menggelar rapat Sabtu (28/2) lalu dengan 28 bendesa pakraman yang wilayahnya dilalui prosesi melasti Ida Batara. Dalam rapat itu disepakati antara lain, pertama, prosesi pamelastian (pamundutan Ida Batara) menggunakan sistem timbal-tinimbal (estafet). Kedua, desa pakraman yang daerahnya dilalui prosesi melasti, menjamin keamanan dan ketertiban demi suksesnya upacara tersebut.

Ketiga, masing-masing desa pakraman itu wajib mengerahkan sekitar 270 orang krama untuk ngayah mamundut upacara/uparengga dan jempana palinggih Ida Batara, di samping menyiapkan pecalang serta prajuru desa. Keempat, sepanjang rute yang dilalui disepakati bersih dari atribut parpol dan caleg. Paling tidak tiga hari sebelum Ida Batara melasti, atribut parpol/caleg sudah diturunkan. Kata Gunantra, semua palawatan Ida Batara di Pura Besakih dan Pura Padharman kairing melasti.
Sementara rapat panitia karya dengan prajuru Pura Padharman di Besakih baru akan dilangsungkan Rabu (4/3) ini.

Jadi, rapatnya berjenjang. Pada saat itu, tentu akan diinformasikan soal pamelastian, termasuk palawatan Ida Batara Padharman yang akan kairing melasti.

Enam Bagian

Sementara itu iring-iringan pamelastian terdiri atas enam 'kelompok' atau bagian. Bagian pertama atau terdepan terdiri atas satu unit kendaraan PJR untuk mengatur lalu lintas, satu unit mobil penerangan yang bertugas untuk memberikan informasi/penerangan, satu unit mobil bak terbuka yang memuat tirta pamarisudha -- untuk membersihkan rute pamargi dan satu unit kendaraan yang membawa wangsuhpadan Ida Batara. Bagian atau kelompok kedua terdiri atas 40 orang pamundut upacara/uparengga seperti umbul-umbul, lelontek, cendekan, mamas, bandrangan, payung pagut, pasepan, sekarura, dll. Bagian ketiga terdiri atas para pamundut jempana Ida Batara Catur Lawa yakni Ida Batara Ratu Pande, Ida Batara Ratu Pasek, Ida Batara Ratu Dukuh dan Ida Batara Ratu Penyarikan. Bagian keempat adalah pamudut 19 jempana Ida Batara Luhuring Ambal-ambal dan Soring Ambal-ambal. Bagian atau kelompok kelima adalah pamundut 13 jempana Ida Batara Padharman. Kelompok terakhir adalah tetamburan seperti bleganjur dan para pengiring.

Lanjut Gunantra, rute yang dilalui mencapai puluhan kilometer, melewati 28 desa pakraman di Kabupaten Karangasem dan Klungkung. Ida Batara kairing dari Besakih menuju Segara Watu Klotok. Kembali dari segara, Ida Batara kairing masandekan di Pura Penataran Agung Klungkung dan Pura Tebola Karangasem, selanjutnya pada 23 Februari Ida Batara kairing kembali ke Pura Besakih.
Lalu apa makna melasti? Ketua Parisada Bali Dr. IGN Sudiana mengatakan, dalam Lontar Sundarigama disebutkan melasti adalah ngiring para Dewata anganyutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana, angamit tirta amerta. Artinya, umat ngiring Ida Batara ke segara, menghanyutkan segala penderitaan umat, segala sesuatu yang menyebabkan dunia atau alam semesta ini kotor, kemudian mengambil Tirta Amerta di tengah samudera. Tirta tersebut kemudian dipakai saat Karya Agung Panca Bali Krama -- menyucikan alam semesta (pemahayu jagat).