Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Renungan Nyepi Menyepikan Gejolak Indria

Setelah hari ini, Rabu (25/3), umat melaksanakan Tawur Agung Kesanga (yang dikenal dengan ritual Pangrupukan), Kamis (26/3) besok umat Hindu merayakan hari raya Nyepi tahun Saka 1931. Apa sesungguhnya hakikat Nyepi?

DALAM perayaan Nyepi umat melaksanakan catur brata panyepian yakni amati geni (tak menyalakan api), amati karya (tidak beraktivitas/tak bekerja), amati lelungan (tak bepergian) dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Guru Besar IHDN Denpasar Prof. Ketut Subagiasta mengatakan hakikat Nyepi sesungguhnya adalah sunia ring sejeroning redaya (mengheningkan hati) nyujur nirmala (mencapai kesucian).

Dalam suasana sepi itulah umat melakukan konsentrasi menuju kesucian atau anyekung jnana sudha nirmala.
'Dalam suasana sepi atau sipeng itulah umat berenung mulat sarira, guna ngicalang atau menghilangkan tri mala -- tiga keburukan -- yang bersumber dari pikiran, perkataan dan perbuatan,' kata Subagiasta.

Dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar Wayan Budiutama mengatakan, berbeda dengan perayaan tahun baru masehi, tahun baru saka dirayakan oleh umat Hindu dengan suasana sepi atau hening (nyepi). 'Agak berbeda dengan perayaan tahun baru masehi, tahun baru saka lebih bersifat kontemplasi atau mulatsarira,' ujarnya.

Dalam konteks itu umat melakukan introspeksi atas segala kekurangan tahun sebelumnya. Kemudian melangkah ke depan mulai dengan kosong (dalam arti bersih), sehingga dapat melihat dengan jernih berbagai problem kehidupan dan lebih mampu mengendalikan hasrat yang bergerak cepat. Dengan demikian kita mampu menangkap makna kehidupan yang sesungguhnya.

Senada dengan Budiutama, Subagiasta mengatakan Nyepi sesungguhnya dalam rangka membangkitkan spiritual. Karena itu tahun baru saka 'dirayakan' dengan suasana sepi. Dalam suasana sepilah, spiritual itu bisa dibangkitkan.
Pengamat agama Ketut Wiana mengatakan nyepi dalam konteks perayaan hari raya Nyepi, bermaksud 'menyepikan' gejolak indria. 'Nafsu indria harus patuh pada kendali kesadaran budi. Dengan demikian hidup mampu menjalankan kesucian atman dan selalu ada pada jalan dharma,' ujar Wiana.

Lanjut Wiana yang pengurus Parisada Pusat ini, hidup harus sepi dari dari kebodohan, kebohongan, egoisme, permusuhan, kekerasan, korupsi dan sejenisnya. Jika itu bisa disepikan, maka hidup aman dan sejahtera akan muncul. (lun)