Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Lelipi Muncul di Pura Marajapati

Aneh dan ajaib, pada Jumat, Umanis, Langkir tanggal 5 September 2008, muncul lelipi (ular) yang tampaknya diyakini duwe di Marajapati. Ceritanya, ada seorang warga Banjar Binong bernama I Wayan Bawa mantan kelihan adat terperangah. Awalnya, ketika ia akan naik mencari ambu (daun jaka muda) untuk keperluan penjor di Pura Puseh.

Ayah dua anak ini kaget bukan main. Dari kajauhan dilihatnya klebatan sinar tepatnya di pintu masuk pura yang dibuat dari besi. Setibanya di tempat (pura), ternyata ular hijau sedang melilit pintu besi tersebut. Karena kaget dengan adanya ular tersebut, dia memanggil warga yang lainnya.

Akhirnya datang Jero Sayun yang akrab di sapa Dadong Jero. Selanjutnya, juga dipanggil Jero Mangku Marajapati untuk mengecek kebenaran kejadian tersebut. Benar saja, ular yang melilit pintu dengan erat, sama sekali tidak mau turun. Bahkan semakin kuat melilit pintu. Anehnya, ular bertelur sebanyak lima butir. Lebih unik lagi, 4 telurnya ada di bawah atau di undag pintu, sementara satunya lagi berada di atas dan dililit dengan ekornya.

Ternyata ular tersebut bukan sembarang ular, I Wayan Bawa menceritakan, ular yang satu ini memang lain, dan tidak sembarang ular. Karena dia tidak mau pergi ke mana-mana, dan hanya diam. Kedatangan Jero Sayun membuat lebih percaya lagi adalah duwen Ida Bhatara Merajapati.

Pasalnya, ular tersebut dimadikan dan diurut-urut, dimanjakan, dikasihi oleh Dadong Jero. Namun, ular tersebut sama sekali tidak bergerak. Ular diam saja (boh), tidak nyotot, guna meyakinkan kejinakan ular tersebut, Dadong Jero tidak merasa takut. Akhirnya, Jero Mangku Merajapati mohon kepada Ida Bhatara di punyan panggal buaya dengan menghaturkan upakara sekadarnya.

Begitu menghaturkan piuning, kontan saja ular tersebut turun dengan santainya. Dengan menampakan kejinakannya melaju ke bagian sudut tembok di arah kaja kauh (barat laut). Di sana ular tersebut diam dengan waktu cukup lama seraya menjulurkan lidahnya tanpa menampakan kegarangan.

Keunikan ular tersebut, tidak seperti ular umumnya, warnanya memang hijau yang disebut lipi gadang. Biasanya liping gadang rengas dan cepat berlalu. Sementara ular ini sangat jinak sekali, lidahnya berwarna biru laut, di bagian ekornya warna putih berpadukan sedikit merah. Telurnya lumayan besar.

Dengan munculnya ular aneh ini, dari mulut ke mulut tersiar berita. Bahwa ada ular yang unik di Pura Merajapati. Dalam hitungan lima menit, warga Banjar Binong gempar dan berdatangan ingin menyaksikan ular tersebut. Tidak saja warga Binong, juga warga Banjarasayan tidak mau ketinggalan melihat momen langka tersebut.

Pantauan TBA di lapangan, semua yang datang sangat kaget dan terkesima, di mana baru kali ini menyaksikan ular hijau begitu jinaknya. Tidak mau ke mana-mana. Pengunjung betah di sana, tidak mau angkat kaki. Begitu keunikan ular tersebut. Perlu juga diketahui, pura Merajapati ini memang sangat angker, dan baru kali ini baru dapat dibuktikan dengan munculnya ular aneh.

Mimpi Naga

Dengan munculnya ular ini, ternyata Dadong Jero sudah ada firasat. Malamnya, dia mimpi ada naga turun di pura, sebagai cihna turunnya Panca Pandawa. Ternyata firasat Dadong Jero terbukti dengan hadirnya ular hijau yang menghebohkan. Guna mohon kerahayuan atas munculnya ular, maka malamnya pengurus adat dan dinas mengadakan upacara atur piuning agar diberikan keselamatan.

Munculnya ular tersebut juga hadir kelihan adat Banjar Binong Dewa Made Susila, Kelihan Dinas, I Made Asa dan warga setempat. Tapi sayangnya, begitu ular dengan jinaknya menghuni pura, warga sembarangan masuk ke areal suci, sampai Dadong Jero memberikan peringatan. Lebih sial lagi, ular tersebut justru diganggu oleh warga dibawakan keranjang burung, kampil. Bahkan ular tersebut sempat diambil dan dijadikan dokumen foto-foto. Akhirnya ular terganggu kenyamanannya. Akhirnya ular pergi dengan santai. Dikatakan oleh warga, begitu meninggalkan pura, ular tersebut sempat melihat-lihat telurnya sebanyak lima butir yang ditinggalkan naik ke pohon yang paling besar di arah kaja kauh.
Akhirnya warga Banjar Binong kecewa. Terlalu bebas memberikan pengunjung datang sembarangan ke areal suci, bahkan ular diambil mau dimasukan ke dalam kampil.

Sumber : http://baliaga-niskala.blogspot.com/