Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Tanah Wuk Dihuni Makhluk Halus

Tanah Wuk, tidak hanya menyajikan lokasi yang sangat menakjubkan, tapi di lokasi yang menjadi idola kaum remaja, juga diyakini menjadi istana hunian berbagai makhluk halus, seperti Bidadari, Wongsamar, ancangan, serta julit duwen Ida di nis. Termasuk bisa mendapatkan air awet muda secara alami.

Tanah Wuk sangat terkenal sebagai tempat rekreasi bagi krama Bali tengah khususnya. Apalagi bagi krama Abiansemal dan sekitarnya, Tanah Wuk adalah tempat idola anak-anak muda. Namun, di balik tersohornya sebagai tempat rekreasi, ternyata terdapat bahkan sering ditemukan hal-hal aneh di sekitar tempat yang indah dan sejuk itu. Sebelum menyingkap misterinya, marilah sejenak mengenal lokasinya.

Tanah Wuk, begitu akrab bagi anak-anak muda yang lagi membaranya api asmaranya. Lokasi ini sekitar 3 hektar luasnya. Berada di tempat yang cukup strategis yaitu berdampingan dengan obyek wisata internasional Hutan Pala beserta keranya di Sangeh.

Bagi yang sudah kenal dengan Tanah Wuk, nampaknya kalau belum sempat mampir tidak terasa lengkap. Pasalnya, tempat ini sangat sejuk, nyaman, asri, panoramanya menakjubkan. Satu-satunya karunia Tuhan yang sulit diulas atau diungkap dengan kata-kata. Sejauh mata memandang, panoramanya semakin mengasyikan. Apalagi ada lembah hijau yang memberikan suguhan sangat alami dan menarik. Lekukan sungainya juga indah, airnya yang jernih terlihat jelas dari atas.

Hamparan alam bebas dari pandangan sejauh mampu memandang. Lambaian pohon kelapa ikut menambah indahnya lokasi Tanah Wuk. Tanah Wuk selalu ramai di hari-hari raya di Bali seperti Galungan, Kuningan, Nyepi dan hari libur lainnya. Setiap hari juga ada saja orang melepas penat di sana. Pokoknya nyaman dan mengasyikan, apalagi dilakukan berduaan dengan sang kekasih. Tidak rugi ke sana kalau ingin santai.

Lokasi ini berada di sebelah selatan Grana, dan di utara Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung. Posisinya pas di tengah-tengah antara kedua wilayah Grana dengan Sangeh. Dari Denpasar jaraknya kurang 30 km, dari Abiansemal sekitar 5 km. Jarak tenpuh dari Denpasar kurang lebih 45 hingga 1 jam. Jalan menuju lokasi sangat bagus. Hanya saja, untuk menemukan lokasinya agak sedikit ke dalam kurang lebih 200 meter, belok ke kiri dari arah Denpasar. Di sebelah utaranya terdapat hotel atau penginapan.

Menurut Agung Duta Cakrawerti Kepakisan yang pemilik Tanah Wuk ini, sangat paham dengan lokasi ini. Antara kramat dan berbau misteri tidak menjadi asing lagi. Walau kondisi alamnya sangat diyakini keramat, bukan berarti halangan bagi krama Bali untuk melakukan rekreasi. Masalahnya, asal dilakukan dengan baik dan benar, tidak masalah.

“Saya cuma berharap, jangan salahkan tempat keramat, tapi salahkan etika dan moral di mana kita berada, jangan bicara sembarangan, jangan berprilaku yang tidak etis secara etika dan moral. Lokasi ini memang kramat, tapi tidak berlaku bagi yang datang dengan niat baik. Silahkan pacaran, tapi pacaran yang sopan,” ujar Gung Duta panggilan akrab anak dari Rai Mirsha (alm)

Ayah satu (1) putra ini menambahkan, banyak hal-hal aneh ada di sini. Tapi tidak semua orang bisa merasakan dan melihatnya. Bagi Gung Duta yang namanya makhluk halus sudah biasa. Hanya saja, dirinya tidak pernah merasakan disakiti, merasa tidak bersalah. Dia mengaku sudah biasa di sini, tinggal, tidur bersama keluarga. “Rasa takut sih ada, tapi sudah biasa tinggal di sini,” ungkapnya dengan apa adanya. Pria kelahiran tahun 1982 inipun bercerita panjang di seputar kejadian-kejadian aneh yang sudah terjadi sejak dulu.

Mulai dari tempat ini dijadikan media meditasi dari orang kebanyakan dari luar, bahkan dari Jawa, melakukannya pada malam hari. Mereka-mereka penekun spiritual tahu persis Tanah Wuk adalah tempat yang sangat bagus untuk meditasi.

Di samping juga terdapat titi ugal-agil untuk bunuh diri. Jangan kaget juga, kalau lokasi ini ada banyak bidadari secara niskala. Gung Duta asal Grana, Sangeh, Abiansemal yang pernah kuliah kedokteran di Jakarta, tidak pernah menakuti-nakuti pengunjung. Asalkan ada etika, pacaran pun boleh.

Cerita Gung Duta, di bawahnya ada Tukad Yeh Penet tidak pernah dijamah limbah, airnya selalu jernih. Di sini jua banyak terdapat makhluk-makhluk halus sebagai penghuni lokasi. Kalau mau turun, boleh-boleh saja, hanya saja siap menurun dan naik tangga yang jumlahnya ratusan. Menuju tangga ini, kalau tenaga tidak fit, akan dibuat nafas jadi ngos-ngosan.

Di sela-sela semak, terdapat jejak-jejak atau bekas orang-orang mengadu kasih dengan pasangannya. Hanya saja, pasangan remaja tidak pernah diganggu, asal saja dilakukan dengan etika yang baik. Di sana juga terlihat kera yang jumlahnya tidak begitu banyak. Sekali-sekali menampakan diri saling bercanda dengan karibnya.

Di samping itu, tandas Gung Duta, di sana juga terdapat julit sebesar paha. Julit ini bukan sembarangan, diyakini julit duwe. Pasalnya, sudah terbukti tidak bisa disembelih. Pernah katanya mau diambil untuk ditampah. Begitu mau ditampah , mereka dicari orang besar. Baik yang menjual, maupun yang membelinya juga dicari orang besar tinggi. Kejadian ini berulang-berulang, akhirnya julit itu kembali ke tempatnya.

Pengalaman unik bagi Gung Duta, ketika lampu mati semua. Dirinya merasa ngeri dan takut sekali. Semua ini bukan kehendaknya, bukan karena kesalahan teknis dari listrik tersebut. Dirinya yakin ada makhluk halus yang menghendaki listrinya mati. Dirinya digoda dan dijahili oleh penghuni lokasi ini.

Sumber : http://baliaga-niskala.blogspot.com/