Getaran Spiritual Pura Luhur Pempatan Agung Sangketan Penebel Tabanan

Getaran spiritual akan sangat terasa bila kita memasuki areal Pura Luhur Pempatan Agung, Desa Adat Puring, Sangketan Penebel. Walau pura ini tidak begitu luas dan dengan arsitektur bangunan yang tidak begitu megah, namun masyarakat sekitar sangat meyakini bila pura ini sangat sakral (pingit). Artinya, pemedek bukan berarti harus takut, tetapi harus waspada dalam menjaga sikap dan perilaku serta upacara di pura yang masih erat kaitannya dengan sejumlah pura lain di jajar Kemiri Gunung Batukaru ini harus sesuai dengan kaidah, baik secara niskala maupun sekala.

Jero Mangku Gede I Wayan Rinceg yang sehari-hari mengemban tugas di pura ini menuturkan, Ida Bhatara yang disungsung sangatlah murah hati, namun demikian masyarakat hendaknya taat melakukan pemujaan dan memohon berkah dari beliau. Diceritakan Jero Mangku, dari sejumlah sumber yang menceritakan kepada dirinya, keberadaan pura yang disungsung oleh krama adat Puring ini bermula dari tahun 1870, dimana oleh warga yang mencari lebah di hutan menemukan mayat lembu. Warga ini berasal dari Bengkel Wangaya Gede. Kabar ini disampaikan kepada Cokorda Tabanan kala itu. Diutuslah punggawa Penebel ke lokasi yang berciri aneh dimaksud warga. Punggawa Penebel tidak dapat menyimpulkan kejadian itu secara langsung, akhirnya diutuslah punggawa Selemadeg yang bersama-sama kembali ke empat itu dengan punggawa Penebel. Setelah keduanya bekerja atas bantuan dari bhagavanta kerajaan, lokasi itu harus disakralkan dan disebut sebagai Pempatan Agung dan selanjutnya dibangun sebuah simbol bebaturan. Tahun 1875 hutan tersebut dibuka dan dibagi antara wilayah punggawa Selemadeg dan Penebel.

Semakin lama, semakin banyak krama yang bermukim di dekat kawasan itu. Namun masyarakat Puring melupakan kejadian dan tidak melakukan pemujaan di Pempatan Agung itu. Hingga terbentuk banjar dan dipimpin oleh seorang klian tahun 1945, masyarakat diminta kembali melakukan puja pengastawa di lokasi itu. Anehnya, ketika NICA menyerbu Bali, di lokasi yang berdekatan dengan hutan Batukaru ini, terdapat banyak pejuang penyingkiran, tetapi NICA tidak berhasil masuk ke daerah ini. Masyarakat yakin, hal itu karena kekuatan magis yang melindungi. Akhirnya Pura itu langsung disungsung oleh masyarakat sekitar. Tahun 1965 dilakukan kembali puja ngastawa, karena banjar selamat dari berbagai kejadian dan tragedi yang menimpa sebagian besar Bali, maka tahun 1974 dibangunlah sejumlah pelinggih. Awalnya pengempon pura hanya terdiri atas 17 KK. Banyak warga lain akhirya turut nyungsung pura itu. Tahun 1996 dimana Puring sah menjadi desa adat, pembangunan pura itu dilanjutkan kembali. “Ketika upacara ngenteg linggih di Pura Luhur Muncak Sari ada baos bahwa pura ini disebut sebagai Pura Luhur Pempatan Agung, Setiap Buda Pon Watugunung dilaksanakan pujawali” ujar Jero Mangku Rinceg.

Sejumlah pelinggih pemujaan terawat baik. Salah satu pelinggih di dalamnya terdapat sarang tawon yang diyakini bukan tawon sembarangan. Jika Ida Bhatara yang disungsung berkenan, madu tawon ini dapat diambil dengan prosesi tertentu dimana Raja Tabanan akan mengawali dengan penusukan keris. Anehnya, para pemangku yang mengambil madu maupun para pemedek tidak disengat sama sekali. Madu tersebut akan dibagikan yang berkhasiat sebagai madu amerta sekaligus mengobati berbagai jenis penyakit. Akses jalan ke pura ini semakin gampang ketika dilakukan ngeruak jalan oleh Gubernur IB Mantra. Sementara itu, karena lokasinya sempit, pura ini rencananya akan dilebarkan sekitar 6 are karena ada punia tanah. Namun pelebaran dipastikan tidak merubah struktur bangunan. Ketua panitia pembangunan I Made Nuka Arta mengatakan, rencana pelebaran ke selatan dan ke barat ini otomatis harus membuat penyengker baru. Selain itu akan dibangun bale gong yang menghabiskan dana sekitar Rp 46 juta. Total biaya yang dibutuhkan termasuk membangun wantilah diperkirakan Rp 125 juta. Pengerjaannya pun akan dilakukan secara gotong royong. Dikatakan Nuka, pembangunan tidak akan dibuat megah, tetapi layak dan dapat digunakan guna membantu pelaksanaan pujawali yang akan berlangsung Pebruari 2010 yang diyakini akan dihadiri lebih banyak umat dari berbagai daerah. Sebagai langkah awal rencana itu krama yang kini berjumlah 76 kk terus berdoa. Senin (14/9) malam lalu dilakukan pecaruan pemayuh desa, agar diberkati kerahayJustify Fulluan dan rencana pembangunan berjalan lancar. (KMB 14) sumber balipost.
Admin
Admin Terimakasih sudah mengunjungi situs kami. Jika terdapat kesalahan penulisan pada artikel atau link rusak dan masalah lainnya, mohon laporkan kepada Admin Web kami (Pastikan memberitahukan link Artikel yang dimaksud). Atau bagi anda yang ingin memberikan kritik dan saran silahkan kirimkan pesan melalui kontak form di halaman Contact Us