Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Memasuki Kesadaran Atman

Atman: kita tidak bisa menjelaskannya. Kita dapat merasakan keberadaannya melalui perasaan kita yang suci, tetapi kita tidak bisa menjelaskannya. Untuk mengetahuinya, kita harus mengalaminya. Kata terbaik yang bisa kita katakan tentang dia adalah bahwa dia adalah yang paling dalam dari Keberadaan kita, inti dari kita. Dia adalah kita yang sejati.

Jika kita menggambarkan: di atas kita tidak ada apa-apa, di bawah kita tidak ada apa-apa, di sebelah kanan kita tidak ada apa-apa, di sebelah kiri kita tidak ada apa-apa, di depan kita tidak ada apa-apa, di belakang kita tidak ada apa-apa; dan melebur diri kita sendiri ke dalam ketiadaan, itu adalah cara terbaik kita menjelaskan kesadaran Atman. Akan tetapi ketiadaan itu tidak berarti tidak ada sesuatu sama sekali, seperti ketiadaan dalam sebuah kotak kosong, menjadi seperti tidak berisi. Ketiadaan itu dipenuhi oleh kesempurnaan dari segalanya: kekuatan kebenaran, eksistensi dari segala hal.

Setelah kita menyadari Atman, kita tahu untuk apa pikiran itu—dasar penciptaan jiwa. Pikiran menciptakan kepribadian. Pikiran adalah wujud halus kita (sukma sarira) yang senantiasa menciptakan wujud, mempertahankan wujud, menciptakan wujud-wujud baru dan menghancurkan wujud-wujud lama. Pikiran itu, ilusi, tidak nyata, bagian dari kita yang dalam angan-angan kita bersikeras itu adalah nyata. Apa yang memberikan kekuatan pikiran itu? Apakah pikiran memiliki kekuatan jika ia adalah suatu yang tidak nyata? Apa bedanya apakah pikiran punya kekuatan atau tidak, bukankah para rishi mengatakan bahwa Atman ada dari dirinya sendiri? Kita lebih banyak memilih hidup di dalam mimpi dan menjadi terganggu olehnya. Karena terlanjur terlena hidup di dalam mimpi, terasa sangat berat untuk memulai pencarian spiritual, membakar keinginan-keinginan kita untuk menyadari kenyataan sejati dan penuh kebahagiaan karenanya. Kodrat manusia menuntun kita kembali kepada diri kita sendiri. Kodrat manusia menuntun kita kepada Keberadaan diri kita lebih jauh, menuntun kita untuk menyadari Keberadaan Sejati diri kita. Para rishi Weda mengatakan bahwa kita harus menapaki jalan spiritual untuk menyadari Atman, Keberadaan Sejati diri kita. Kita bisa menapaki jalan spiritual hanya jika kita benar-benar telah siap, ketika apa yang kelihatan nyata bagi kita selama ini ternyata dirasakan sangat mengganggu, lalu timbul keinginan untuk mencari kenyataan yang sejati. Kemudian dan baru setelah itu kita mulai dapat memisahkan diri untuk mencari dan menemukan suatu kenyataan baru, keberadaan diri kita yang abadi, Atman.

Apakah kita pernah mencatat sesuatu yang kita anggap langgeng, dan kita sibuk menjaga sesuatu yang kita anggap langgeng itu?

Apakah kita pernah berhenti untuk selalu berpikir dan mendapatkan konsep intelektual yang jelas bahwa Atman adalah satu-satunya hal yang langgeng dalam diri kita? Selain daripada itu semuanya sedang mengalami perubahan? Selain daripada itu semuanya tidak bisa bertahan, tidak bisa ajeg, selalu berhubungan dengan rwa bhineda, silih berganti, antara susah dan senang, antara kegembiraan dan dukacita? Itulah alam pikiran kita.

Atman, Keberadaan Sejati kita, Hidup kita, di mana kesenangan dan kesedihan, kegembiraan dan kedukaan menjadi pelajaran bagi kita. Kita tidak harus berpikir untuk mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa semua tempat milik-Nya ini adalah tidak nyata. Kita hanya bisa tahu dari hati kita yang paling dalam bahwa semua wujud adalah tidak nyata, khayalan.

Seluk beluk, liku-liku, dan kehalusan dari kegembiraan yang kita alami pada saat memasuki Keberadaan Sejati kita itu tidak bisa dijelaskan. Karena setiap penjelasan akan ditangkap oleh pikiran, sedangkan pikiran adalah istananya rwa bhineda, istananya alam khayalan. Itu hanya dapat diproyeksikan kepada kita jika kita memiliki kehalusan buddhi yang cukup untuk menangkap kehalusan vibrasi spiritual. Jika kita ada dalam keselarasan jiwa yang cukup, kita dapat merasakan kegembiraan yang bersifat utama, liku-liku kebahagiaan di mana kita akan merasa semakin dekat dan semakin dekat dengan Diri Sejati kita, Atman.

Jika kita berusaha menemukan Atman dengan menggunakan pikiran kita, kita akan berusaha dan mengupayakannya dengan sia-sia, karena pikiran tidak bisa memberi kita Kebenaran Sejati. Pikiran adalah maya, maya adalah kepalsuan, kepalsuan tidak bisa memberi kita kebenaran. Kemayaan hanya dapat melibatkan kita dalam jaringan kusut kepalsuan. Segala yang maya adalah nyata bagi si maya, hanya Sang Sejati dapat mengatakan segala yang maya adalah maya, segala yang maya adalah palsu. Sebelum mencapai kesadaran Atman, kita tidak bisa dengan benar menyatakan mayapada ini benar-benar maya. Tetapi jika kita membuat diri kita semakin peka, membangkitkan semua kualitas kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan yang kita miliki, kemudian kita menjadi wadah penghubung, menjadi cupu manik di mana Keberadaan Sejati kita akan mulai bersinar. Pada awalnya kita berpikir bahwa sinar itu adalah cahaya gemilang dalam diri kita. Kita akan berusaha mencari untuk menemukan cahaya itu. Kita akan berusaha mencari dan meraihnya, seperti halnya kita mengagumi, meraih, dan menahan sebongkah batu permata dengan kemilau cahayanya nan gemilang dalam genggaman. Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa cahaya kita itu ada di setiap pori-pori, di setiap sel kita. Kita akan menyadari cahaya itu meresap di setiap atom alam semesta. Cahaya gemilang yang menghapus ilusi khayali yang diciptakan oleh pikiran. Itulah kesadaran Atman. sumber sraddha