Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Makna Galungan

Hari Raya Galungan jatuh pada Rabu Kliwon Dungulan 14 Oktober 2009. Menurut lontar Purana Bali Dwipa: “Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya.” Terjemahannya: Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka.”.

Mulai tahun saka itulah, Galungan dirayakan. Namun pada tahun 1103 Saka, saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 Saka Galungan sempat tidak dirayakan. Akibatnya, konon para pejabat kerajaan berumur pendek. Raja Sri Jaya Kasunu saat naik tahta heran atas kejadian itu. Beliau lalu bersamadi untuk mendapatkan petunjuk Dewata. Dewi Durgha memberi penjelasan, bahwa umur pendek para raja dan pejabat disebabkan oleh melupakan Galungan.

Macam-macam Galungan: (1) Galungan; (2) Galungan Nadi; (3) Galungan Naramangsa. Galungan Nadi, yaitu Galungan yang jatuh pada bulan Purnama. Galungan Naramangsa.yaitu apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9.

Galungan sering disebut kemenangan dharma melawan adharma. Mitologi yang dihubungkan dengan Galungan yaitu kemengan Dewa Indra (kebenaran) melawan Mayadenawa (adharma). Di India, ada juga hari raya semacam Galungan, namanya Wijaya Dasami. Mitologi yang diambil yakni kemenangan Rama melawan Rahwana.(Wayan Supartha).

Biasanya setiap menyambut hari raya keagamaan maupun menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan umat membuat PENJOR adapun makna penjor adalah sebagai berikut :

Makna Penjor
Masyarakat mengenal dua jenis penjor, yaitu penjor sakral dan penjor hiasan. Pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dan acara lain yang sifatnya profan. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll.
Bentuk penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan yaitu sama dengan penjor yang lain, yaitu pada ujung atasnya melengkung. Pada penjor Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa), pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit. Pada zaman dahulu penjor dipasang kalau ada upacara keagamaan. Makna penjor adalah: kemenangan dharma melawan adharma, kesejahteraan dan kemakmuran, kelestarian lingkungan dan sebagainya.(kmb)

Kata-Kata Emas Bhagawadgita

paritranaya sadhunam
vinasaya ca duskrtam
dharma-samasthapanarthaya
sambhavami yuge-yuge

Terjemahan:
Untuk melindungi orang-orang baik dan untuk memusnahkan orang jahat, Aku lahir ke dunia dari masa ke masa, untuk menegakkan dharma (Bhagavadgita.IV.8)
Awatara adalah kekuatan illahi di bumi, untuk mengingatkan kembali status manusia yang sejati. Melalui ajaranNya, Dia berusaha menegakkan kembali aturan-aturan dharma yang semakin merosot serta untuk melindungi para bhaktanya yang tulus dari kemunduran spiritual. Tuhan selalu berada di pihak kebenaran, karena Dia adalah kebenaran itu sendiri. Kasih sayang pada akhirnya akan lebih berkuasa daripada kebencian dan kekejaman. Dharma akan menaklukkan adharma.