Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kemurahan Hati

Murah hati, suka menolong, dermawan, diwahyukan Tuhan untuk dipedomani oleh umat manusia. Berbagai benda atau pengetahuan dapat didermakan, mulai dari yang paling murah, misalnya memberikan minum air putih bagi yang kehausan, memberikan makanan kepada yang kelaparan, memberikan beasiswa kepada siswa atau mahasiswa berprestasi tapi tidak mempunyai dana, itu adalah langkah nyata untuk melakukan sadhana, mempraktekkan kedermawanan.

Kemurahan hati adalah wujud dari dharma, yakni berupa pemberian atau dana punia. Swami Vivekananda menyatakan ada 3 hal yang patut didermakan, yaitu:
  1. DHARMADANA berupa memberikan pendidikan budi pekerti yang luhur untuk merealisasikan ajaran agama.
  2. VIDYADANA berupa memberikan pengetahuan.
  3. ARTHADANA berupa memberikan materi yang dibutuhkan
Dari ketiga macam derma atau dana punia tersebut DHARMADANA menempati kedudukan yang tertinggi kemudian VIDYADANA dan terakhir ARTHADANA yang semuanya dilakukan dgn tulus ikhlas.

SATAHASTA SAMA HARA, SAHASRAHASTA SAM KIRA (Atharvaveda III.24.5) ... Wahai umat manusia, perolehlah kekayaan dengan seratus tanganmu dan dermakanlah dalam kemurahan hati dengan seribu tanganmu.

INDRA KSUDHYADBHYO VAYA ASUTIM DAH (Rgveda I.104.7) ... Wahai para pemimpin dengan murah hati sediakanlah makanan dan air untuk orang-orang kelaparan.

Agung Adnyani:
Bagaiman halnya jk bantuan yg kita berikan kpd org yg membutuhkan justru akan menciptakan ketergantungan yang terus-menerus, bukannya kemandirian. Dan mohon dijelaskan, apa tujuan yang sebenarnya dibalik sadhana memperaktekkan kedermawanan itu ? Terimakasih sebelumnya.
Mangku Suro:
ARTHADANA (bantuan materi) sebaiknya disertai dengan VIDYADANA sehingga si penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperoleh artha sendiri, dan DHARMADANA sehingga si penerima menyadari bahwa memberi jauh lebih mulia daripada menerima dan tumbuh tekad untuk tidak selamanya bergantung dalam hal artha pada orang lain, bila perlu karena bantuan seseorang dia bisa bangkit. Baca Selengkapnya dari kemiskinan artha menjadi orang sukses, kemudian berbalik dengan seribu tangannya melaksanakan dana punia. Mempraktekkan kedermawanan untuk menguji diri sendiri dan berlatih untuk melepaskan diri kita dari belenggu duniawi kira-kira kita begitu maksud Tuhan mewahyukan kedermawanan ini.

Agung Adnyani:
Apakah memang kita hidup didunia ini hanya melaksanakan takdir kita (karma) ? Apakah bisa kita keluar dari lingkaran karma ? Dan apa yang sebaiknya kita lakukan agar kita bisa mengingat kembali akan jati diri kita ?
Mangku Suro:
Terimalah karma kita apa adanya sehingga tdk tumbuh tunas karma yang baru, itu akan membebaskan kita dari lingkaran karma. Agar kita bisa menemukan jati diri kita sebaiknya (bahkan harus) meninggalkan ikatan dari semua yang tidak sejati.

Agung Adnyani:
Apa saja yang termasuk ikatan tidak sejati itu ? Dalam kenyataannya sering kita menemukan kesulitan dalam memperktekan ide - ide tersebut dikarenakan keterkondisian kita. Adakah sadhana unt menghapus keterkondisian tersebut ?
Mangku Suro:
Selain Atman tidak ada yg sejati. Sebelum ditanya, "Berarti Tuhan tidak sejati?" ... Brahman Atman Aikyam ... Mempraktekkan ide - ide tersebut memang sangat sulit, bahkan Bhagawan Wararuci mengakui betapa sulitnya mencapai Kesadaran Tertinggi seperti yg disampaikan pada penutup Kitab Sarasamuccaya. Untuk menghapus keterkondisian tersebut, cobalah ikuti tuntunan sadhana: astangga yoga.

Agung Adnyani:
Untuk Astangga Yoga terutama Dyana Yoga dan Yoga Samadhi, apakah bisa dilakukan tanpa bimbingan ?
Mangku Suro:
Sulit. Jangankan tahapan 7 dan 8, tahapan 1 dan 2 saja kita memerlukan bimbingan untuk mendapatkan pemahaman yang benar. Awali dengan poin 1 tahap 1: Anrsangsya: berlatihlah mengendalikan piranti ahamkara yang kita miliki, menahan ego kita, tidak mementingkan diri sendiri, tidak memandang rendah orang lain, dan banyak lagi implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Agung Adnyani:
Jika sulit dilakukan, kemana kita (yang ingin belajar) mencari bimbingan tersebut. Apakah bimbingan harus dilakukan face to face ?
Mangku Suro
Yang penting ada kontinuitas komunikasi dengan pembimbing. Catat setiap perkembangan yang kita alami lalu konsultasikan.

Adijaya Ketut:
Swastyastu Jro, Bagaimana menyeimbangkan "tanggungjawab saat ini" terutama karena kemelekatan cinta kasih kita terhadap sentana dengan pencarian kita yang pada saatnya nanti akan harus meninggalkan kemelekatan itu.
Mangku Suro:
Orang Jawa bilang, "Manungsa mung sadrema nindakake wajib." Lakukanlah semuanya sebagai sebuah kewajiban tanpa tendensi keinginan (nafsu). Serahkan hasilnya sepenuhnya kepada Tuhan. Terimalah hasilnya apa adanya. sumber SRADDHA