Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Rerainan Umat Hindu Bulan Juni 2010

Berikut merupakan Rangkaian Rerainan bagi Umat Hindu yang akan di laksanakan pada bulan Juni 2010, adapun rerainan tersebut adalah sebagai berikut :

Selasa 1 Juni, Anggara Kasih Medangsia
Anggara Kliwon adalah rerainan yang datang setiap pertemuan Saptawara Anggara dengan Pancarawa Kliwon. Pada rerainan ini Sang Hyang Ayu dan Sang Hyang Rudra beryoga melimpahkan anugrah beliau. Pada hari ini umat menghaturkan canang dan melakukan persembahyangan memohon wara nugraha beliau agar menglebur segala keletehan / kekotoran dunia.

Minggu 6 Juni, Kajeng Kliwon Uwudan
Rerainan kajeng kliwon datangnya setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon Uwudan adalah Kajeng Kliwon yang jatuh pada Pangelong atau periode hingga 15 hari setelah Purnama. Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Rerainan kajeng kliwon dipercaya sebagai hari yang keramat. Pada hari kajeng kliwon umat menghaturkan segehan yang dihaturkan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah segehan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Dhurga Bucari.

Jumat 11 Juni, Tilem sasih Sadha
Rerainan tilem merupakan pemujaan Sang Hyang Surya, tilem juga merupakan rerainan penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra, yang mempunyai makna sama dengan rerainan Purnama. Pada waktu Candra Graha (gerhana bulan) maka dilakukanlah pemujaan Candra Sthawa / Soma Sthawa, dan pada waktu Surya Graha (gerhana matahari) dilakukan pemujaan Surya Cakra Bhuwana Sthawa.

Rabu 16 Juni, Buda Kliwon Pahang
Rerainan Buda Kliwon datang setiap pertemuan Pancawara Kliwon dengan Saptawara Buda dan nama belakangnya disesuaikan dengan nama wuku dimana pertemuan itu terjadi, misalnya jika terjadi pada wuku Sinta maka disebut buda klion sinta, jika pada wuku gumbreg disebut buda klion gumbreg dan selanjutnya. Pada rerainan Buda Klion umat hindu melakukan persembahyangan dan mengahturkan canang lengawangi buratwangi, yang dipersembahkan di merajan / kemulan Rong tiga dan juga di plangkliran, ditujukan kepada Sang Hyang Sri Nini. Pada malam harinya umat Hindu mengheningkan seluruh pikiran, dengan tujuan memohon kerahayuan dan kadirgayusan. Buda kliwon pahang juga disebut dengan Buda Kliwon Pegat Uwakan yang menandai berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan yang ditandai dengan mencabut penjor di muka rumah.

Senin 21 Juni, Kajeng Kliwon Enyitan
Rerainan kajeng kliwon datangnya setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon Nyitan adalah Kajeng Kliwon yang jatuh pada Pananggal atau periode hingga 15 hari setelah Tilem. Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Rerainan kajeng kliwon dipercaya sebagai hari yang keramat. Pada hari kajeng kliwon umat menghaturkan segehan yang dihaturkan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah segehan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Dhurga Bucari.

Sabtu 25 Juni, Tumpek Krulut
Tumpek datangnya setiap 35 hari sekali, yaitu pada saat pertemuan Pancawara Kliwon dengan Saptawara Saniscara itu terjadi, misalnya pada tanggal 2 Mei 2009 jatuh pada Wuku Krulut jadi disebut dengan Tumpek Krulut, atau misalnya saja jatuh pada Wuku Wariga maka disebut dengan Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh.
Rerainan Tumpek Krulut diperingati guna memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Bhatara Iswara. Kata Krulut berarti Lulut yang artinya menyentuh jiwa, jadi pada Tumpek Krulut ini umat menghaturkan rasa syukur atas anugerah tuhan berupa seni tabuh / musik yang dapat mengetarkan jiwa bahkan hingga ke alam semesta. Tumpek Klurut juga diistilahkan dengan odalan gong, karena pada hari inilah para pragina / seka gong melakukan pemujaan sebagai wujud syukur dan bhakti atas anugerah Sang Hyang Widhi berupa seni tetabuhan, karena seni tetabuhan tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat Bali, baik itu dalam hal Upacara Agama ataupun upacara kemanusiaan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu peras, pengambean, ajuman, tigasan, beserta tipat/ketupat gong. Ada yang unik dalam sesajen hari ini yaitu segala sesuatu yang dihaturkan seperti telur, buah-buahan, dll dihaturkan dalam bentuk yang utuh/tidak dibagi-bagi. Sebelum menghaturkan upacara ini dilakukan upacara Mabyekala atau Beakaon sebagai upacara penyucian atau menghilangkan segala mala. Pada hari ini umat melakukan persembahnyangan di Mrajan / Kemulan.

Sabtu 25 Juni, Purnama Sasih Kasa
Rerainan purnama jatuh setiap 30 hari sekali. Pada hari ini seluruh pura - pura di Bali biasanya ramai oleh umat yang melakukan persembahyangan. Pada rerainan Purnama beryogalah Sang Hyang Candra (bulan) yang merupakan hari penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra. Rerainan Purnama merupakan sebuah momentum guna mengintrospeksi diri, bersujut dihadapan Tuhan dan kembali kepada keseimbangan (Rwa Bhineda) sekala dan niskala. Disamping itu pada rerainan Purnama vibrasi suci akan terpancar dari sinar rembulan sehingga sangat baik untuk melaksanakan yoga samadhi. Pada hari ini umat melakukan persembahyangan dimulai dari merajan / kemulan masing - masing, merajan dadia, Pura Kahyangan Tiga dan jika memungkinkan sangat baik untuk melakukan Tirta Yatra.

Rabu 30 Juni, Buda Cemeng Merakih
Rerainan Buda Cemeng dilaksanakan setiap pertemuan pertemuan Saptawara Buda dengan Pancawara Wage. Pada rerainan ini Sang Hyang Manik Galih beryoga menurunkan Sang Hyang Ongkara Merta di Bumi. Yadnya dipersembahkan di Sanggah Kemulan kehadapan Sang Hyang Sri Nini, nunas wara nugraha agar beliau menciptakan kemakmuran dunia. sumber http://idapedandagunung.com