Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Perbuatan Susila

Apanikang dharma, satya, maryada yukti, sri

kasaktin, kaniscayan ika, sila hetunyan hana (Sarasamuscaya.158)

Maksudnya: Prilaku susila sebagai sumber datangnya kebajikan, kebenaran, kehidupan yang layak, kesejahtraan, kesaktian dan keteguhan hati.

Berbuat Susila di zaman Kali ini sungguh tidak mudah. Banyak hambatan dan godaan yang menghadangnya. Hal ini disebabkan pada zaman Kali ini dharma hanya di topang oleh satu kaki, sedangkan adharma di topang oleh tiga kaki. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra I.81 dan 82. Untuk menguatkan hidup di zaman Kali ini dibutuhkan bhakti pada Tuhan dan pelayanan yang tulus pada sesama atau puja dan seva.

Puja itu adalah bhakti pada Tuhan sedangkan seva adalah pelayanan dengan asih pada alam dan punya pada sesama. Dalam Cinakata ada diceritrakan bahwa ada seorang pandita dengan sisya-nya sedang berjalan-jalan di tepi sungai Gangga. Sedang asiknya pandita dengan sisya-nya menikmati panorama sungai Gangga hanyutlah seekor kala jengking. Salah satu swadharma pandita adalah menyelamatkan semua makhluk dari penderitaan.

Kala jengking itupun diselamatkan dari derasnya sungai Gangga dengan tanganya sendiri. Kala jengking saat diambil menyengat tangan pandita. Kala jengking pun lepas dari tangan pandita. Namun demikian pandita kembali mengambil kala jengking itu untuk diselamatkan. Kala jengking itu kembali menyengat tangan pandita. Meskipun berkali-kali tangan pandita disengat oleh kala jengking, pandita yang teguh hati itu tetap menyelamatkan kala jengking jangan sampai hanyut oleh derasnya aliran sungai Gangga.

Karena ketekunan sang pandita, kala jengking pun selamat meskipun tangan pandita itu sampai bengkak disengat kala jengking. Sisya pengiring pandita itupun bertanya. Mengapa guru pandita menyelamatkan kala jengking yang jahat itu yang telah berkali-kali menyengat tangan sang pandita. Pandita yang sabar itupun menjawab: kala jengking berbuat jahat saja ia punya ketetapan hati. Mengapa kita berbuat baik tidak punya ketetapan hati.

Jawaban pandita itu patut kita jadikan renungan bersama dalam hidup ini. Sarasamuscaya 158 di atas menjanjikan enam pahala bagi mereka yang konsisten berbuat susila. Enam pahala yang akan diperoleh bagi yang konsisten berbuat susila yaitu Dharma: Orang yang konsisten berbuat susila tidak mudah terpancing oleh propokasi seperti pandita yang disengat kala jengking itu akan mendapatkan pahala mulia akan senantiasa sukses menyelesaikan kewajibannya (dharma) selama hidupnya.

Dalam hidup ini setiap orang memiliki kewajiban. Dalam Watsyayana Smrti ada empat kewajiban dalam hidup ini yaitu: Asrama Dharma yaitu kewajiban sesuai dengan tingkatan hidup atau asrama masing-masing. Asrama Dharma adalah brahmacari, grihastha, wanaprastha dan sanyasin asrama. Varna dharma adalah kewajiban sesuai dengan profesi masing-masing. Ada brahmana varna, kastriya varna, waisya varna dan sudra varna. Ada juga guna dharma yaitu kewajiban bagi para ilmuwan untuk men-dharmabhakti-kan ilmu yang dimilikinya.

Sadharana Dharma adalah kewajiban umum yang wajib dilakukan oleh setiap orang. Misalnya setiap orang wajib menolong sesama yang membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuannya. Dalam Wrehaspati Tattwa 25 dinyatakan pengamalan dharma ada tujuh macam yaitu: sila, yadnya, tapa, dana, prawrajya, biku, yoga.

Satya: adalah kebenaran Weda. Pada zaman Kali ini tidak mudah menegakan kan kebenaran. Banyak dihadang oleh ancaman, gangguan, hambatan dan tangtangan menegakan kebenaran pada zaman Kali ini. Tetapi bagi yang konsisten melakukan susila, Tuhan akan menciptakan berbagai kemudahan baginya dalam melakukan satya tersebut. Apalagi menurut Slokantara 2 menyatakan bahwa satya itu lebih mulia dari seratus suputra. Seorang suputra lebih mulia dari seratus kali melangsungkan upacara yadnya.

Maryada yukti: artinya kehidupan yang layak. Untuk mendapatkan hidup yang layak juga tidak mudah. Tetapi bagi yang konsisten berpegang pada susila maka ia akan diberikan kemudahan oleh Tuhan dalam memproleh kehidupan yang layak. Hidup yang layak itu adalah hidup yang seimbang lahir batin, hidup yang mengutamakan kualitas dari pada kuantitas, mementingkan fungsi dari gensi. Secara sosial memiliki integrasi sosial yang baik.

Sri: artinya makmur secara ekonomi. Orang yang konsisten berlaku susila akan dimudahkan rezekinya oleh Tuhan. Sri bukan berati kaya raya. Karena kemakmuran tidak bisa diukur dari jumlah kekayaan yang berlimpah. Kekayaan berlimpah dapat membuat orang bersikap eksklusif. Sikap eksklusif dapat membawa orang hidup menderita banyak musuh karena kekayaan berlimpah kalau tidak disertai dengan moral dan mental yang baik dapat membawa orang jadi sombong.

Kasaktin: Orang yang tekun berbuat susila akan dipermudah oleh Tuhan mendapatkan kesaktian. Sakti menurut Wrehaspati Tattwa 14 adalah sang sarwa jnyana muang sang sarwa karya. Maksudnya; Sakti adalah orang yang banyak ilmu dan banyak kerja berdasarkan ilmu yang dimiliki. Dunia yang semakin global dengan tehnologi yang semakin canggih, semakin dibutuhkan SDM yang sakti. SDM yang sakti itulah yang akan dapat menolong masyarakat keluar dari berbagai kemelut yang semakin merisaukan.

Berbagai ilmu yang dimiliki oleh SDM sakti itu akan diwujudkan dalam kerja sebagai pengamalan dari ilmu yang dimiliki. SDM sakti itu tidak disebut sakti kalau hanya berhenti dalam teori semata. Dalam Canakya Nitisastra IV.15 dinyatakan sbb: Anabhyasa visam sastram. Artinya: ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan dalam praktek kehidupan akan menjadi racun.

Kaniscayan: artinya keteguhan hati seperti pandita yang diceritrakan di atas. Pada zaman post modern ini dinamika hidup semakin flutuatif sering sulit diprediksi. Makna teguh dalam hal ini tidak mudah gede roso (GR) kalau dipuji dan tidak mudah putus asa kalau dicaci. Berbagai suka duka dihadapi dengan sama dan dhira artinya seimbang dan tahan uji. Artinya kuat memegang prinsip hidup. Penulis I Ketut Wiana