Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kehidupan Modern

Raga dwesa yuktaistu.

Wisayan indriyais caran

Atmawasair widheyaatmaa

Prasaadam adhigacchati (Bhagawad Gita II.64).


Maksudnya: Hidup di tengah-tengah hiruk pikuknya benda-benda duniawi dengan tetap menguasai kekuatan pikiran dari tarikan kesenangan dan kedengkian dengan kuat mengendalikan diri, akan mencapai kedamaian jiwa.

Dinamika kehidupan di dunia dewasa ini semakin sulit diprediksi. Lebih-lebih hiruk pikuknya kehidupan di dunia ini disertai dengan pesatnya pengembangan rekayasa iptek. Akibat negatif dan positif dari rekayasa iptek itu semakin fluktuatif. Ada hasil rekayasa iptek yang akibat positifnya lebih banyak dari akibat negatifnya. Demikian juga sebaliknya. Sangat tergantung niat manusia yang ada dibelakang pengembangan IPTEK tersebut. Mahatma Gandi menyatakan ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan dapat menimbulkan dosa sosial. Ini berarti kalau rekayasa iptek itu dikembangkan oleh SDM yang kuat rasa kemanusiaannya tentunya rekayasa iptek itu justru akan menimbulkan kebaikan publik.

Tetapi kalau SDM-nya sangat lemah rasa kemanusiaannya akan menimbulkan bencana kemanusiaan. Seperti adanya makanan oplosan dengan menggunakan zat kimia berbahaya. Ada obat-obat palsu beredar di pasaran. Ada uang palsu yang dapat merusak ekonomi bangsa. Adanya pemalsuan berbagai merek barang yang banyak merugikan berbagai pihak. Mereka yang merusak kehidupan publik itu nyatanya banyak yang hidupnya berkecukupan. Hukumpun tak mampu menyentuh prilaku jahatnya itu. Bahkan mereka yang melakukan kejahatan itu dari kalangan elit seperti pendidikan tinggi, dari keluarga mampu, ada dari mereka yang keluarganya sudah punya pengaruh luas.

Mereka yang tidak kuat berpegang pada dharma dapat hanyut ikut melakukan hal-hal yang melanggar Agama maupun hukum serta norma-norma hidup lainnya. Tapi bagi yang memahami posisi dharma ia tidak akan terpengaruh oleh hidup pikuknya gejolak zaman Kali yang bersifat palsu itu. Manawa Dharmasastra I.82 menyatakan bahwa pada zaman Kerta, dharma ditopang oleh empat kekuatan penuh. Pada zaman Tretya kekuatan dharma berkurang seperempatnya. Pada zaman Dwapara kekuatan dharma dan adharma seimbang betul. Pada zaman Kali kekuatan dharma hanya satu sedangkan adharma kekuatannya tiga. Kalau secara matematik adharma sepertinya akan unggul melawan dharma. Tetapi bagi yang kuat berpegang pada dharma jalkan pujanam dan sevanam ia akan mendapatkan perlindungan dari Tuhan dari pengaruh adharma. Pujanam artinya meyakini dan memuja Tuhan dengan penuh bhakti. Sedangkan sevanam artinya memandang hidup ini adalah pelayanan kepada alam, kepada sesama dan pada yang tertinggi yaitu Tuhan Yang Mahaesa. Subha Sita Veda menyatakan: Para upakara punyaya, papaya parapidana. Artinya siapapun yang hidupnya senantiasa melayani orang lain, ia akan dapat punia atau kemuliaan. Barang siapa yang hidupnya menyakiti pihak lain hidupnya akan dirundung oleh derita.

Bagi mereka yang kuat berpegang pada ajaran Dharmasastra ini, menghadapi hiruk pikuknya kehidupan didunia ini ia tidak akan khawatir. Hidup bukan kuantitas tetapi kualitas. Kualitas hidup ukurannya adalah dharma. Mereka merasa mewah dalam kesederhanaan. Hidup glamour bergelimang kenikmatan duniawi bukanlah kemewahan bagi mereka yang berpegang pada Dharma. Hal inilah yang dipegang oleh Pandawa. Meskipun mereka sederhana dalam ukuran duniawi, tetapi mereka berada di jalan dharma. Mereka merasa dekat dan berada pada lindungan Tuhan. Dekat dan merasa ada dalam perlindungan Tuhan, inilah kemewahan baginya. Pikiran dan hati nuraninya tak tergoyahkan oleh kenikmatan duniawi yang berada di luar jalur dharma. Keindahan dunia dinikmati sepanjang ada dijalur dharma. Mereka yang berpegang pada dharma bukan menolak keindahan dan gemerlapannya dunia. Keindahan dunia dapat dinikmati sepanjang berdasarkan dharma dan tidak merusak sistem alam berdasarkan hukum Rta.

Hukum Rta-lah ciptaan Tuhan untuk menata dinaika alam. Dengan hukum Rta alam beredar sesuai dengan hak azasi alaminya. Menikmati dinamika alam dengan tidak melanggar hak azasi alam itu sendiri bahkan justru sebelum dinikmati alam itu dikuatkan eksistensi alaminya terlebih dahulu. Dengan demikian kehidupan itu dapat berlangsung dengan tidak merusak alam tersebut. Keyakinan dan bhakti pada Tuhan hendaknya menjadi sikap hidup untuk menguatkan pikiran dan hati nurani dalam mengarungi hiruk pikuknya dunia modern bahkan para ilmuwan menyebutnya post modern. Dengan kuatnya pikiran dan hati nurani berpegang pada Dharma dengan senantiasa berlindung pada Tuhan orang akan mampu mengarungi hiruk pikuknya glamournya benda-benda duniawi. Dalam Bhagawad Gita VII.1 dinyatakan untuk membuat senantiasa dekat Tuhan ada lima hal yang sepatutnya dilakukan yaitu: Asta manah; pusatkan dan kuatkan pikiran meyakini dan berbakti pada Tuhan Yoga yunjana; laksanakan ajaran yoga dengan tekun, Madasraya; selalu berlindung pada Tuhan, Asamsaya; tidak pernah ragu berpegang pada dharma, Samagraham yaitu pasrah dengan sepenuhnya hanya pada Tuhan. Dengan lima kegiatan itulah seseorang dapat menguatkan dirinya menghadapi dinamika dunia yang semakin fluktuatif. Dengan berpegang pada upaya yang ditunjukan oleh pustaka suci itu maka kita akan tidak ragu hidup dalam mengarungi hiruk pikuknya dunia post modern dewasa ini.

Bahkan sikap hidup yang kuat berpegang pada nilai-nilai spiritual kitab suci itu kita tidak hanyut pada dinamika dunia yang multi dimensi tersebut. Justru sebaliknya tahap demi tahap dapat menjadi contoh dalam kehidupan modern itu. Pada zaman Kali ini masyarakat akan menutup telinga pada nasehat-nasehat, tetapi akan membuka mata pada contoh-contoh yang baik dari mereka kuat berpegang pada kehidupan yang kuat berpegang pada nilai-nilai dharma. Hidup ini tidak harus menjauhi dinamika duniawi, tetapi yang penting tidak hanyut oleh dinamika duniawi tersebut. Dunia ini adalah sarana kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Tanpa sarana dunia, manusia tidak bisa hidup. Yang penting dunia ini jangan dipandang sebagai tujuan. Manusia hendaknya menjadikan dunia ini sebagai sarana mewujudkan tujuan hidup mencapai dharma, artha dan kama sebagai dasar untuk mencapai moksha di dunia niskala. Mereka yang demikian itulah yang akan dapat mencapai ketenangan jiwa dalam hiruk pikuknya gejolak dunia. Oleh I Ketut Wiana