Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mengapa Ada Simbul Perang Dalam Merayakan Hari Raya Kuningan

Sabtu Kliwon 18 Desember 2010 Umat Hindu kembali merayakan hari raya Kuningan, setelah sepuluh hari lalu merayakan Galungan. Ada yang menarik saat perayaan Kuningan. Berbagai simbol perang ditampilkan seperti tamiang, ter dan endongan. Yang menarik lainnya adalah hari raya suci ini dirayakan sebelum tajeg surya, di bawah pukul 12.00. Apa yang bisa dimaknai dari perayaan Kuningan dalam konteks kekinian ?

Dalam perayaan Kuningan kita dapat melihat berbagai simbol perang ditempatkan di palinggih-palinggih, penjor, bangunan rumah, seperti tamiang, ter, endongan. Semua simbol dalam perayaan Kuningan itu penting dimaknai dalam kehidupan kekinian. Tamiang sebagai simbol pertahanan, mengandung makna bahwa umat hendaknya selalu meningkatkan ketahanan diri atau ketahanan spiritual dalam menghadapi tantangan hidup. Ter simbol senjata perjuangan, sedangkan endongan simbol logistik. Atribut-atribut itu dipasang sebagai pertanda bahwa umat bertekad selalu menang melawan ''musuh'', dengan memperkuat ketahanan diri, meningkatkan kecerdasan pikiran dan bekal hidup berupa ilmu pengetahuan. Dalam konteks kekinian, musuh-musuh itu adalah kegelapan, kebodohan, kemiskinan dan sebagainya. Termasuk sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita seperti rajas dan tamas.

Saat Penampahan Galungan, umat melenyapkan sifat-sifat tamas, dalam konteks sekala disimbolkan dengan menyembelih babi. ''Dengan berhasilnya umat memerangi sifat-sifat tamas, dunia menjadi penuh sinar (div). Pada saat itulah, selama sepuluh hari dimulai sejak Galungan hingga Kuningan, para dewa diyakini turun ke bumi memberikan anugerah kepada umatnya. Pada hari-hari penuh anugerah itulah semestinya umat selalu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa memohon perlindungan, tuntunan dan anugerah. Hari penuh anugerah itu puncaknya saat Kuningan, sebelum tajeg surya. Karena itu umat Hindu selalu merayakan Kuningan pagi hari dan selesai mengaturkan banten sebelum pukul 12.00. Sebab, sesuai dengan mitos agama, para dewa diyakini kembali lagi ke kahyangan setelah pukul 12.00,'' ujar Guru Besar Unhi Prof. Dr. I.B. Gunadha, M.Si.

Jadi, tegas Prof. I.B. Gunadha, Kuningan itu merupakan puncak anugerah. Dalam konteks ini umat dituntun untuk selalu mencapai kesempurnaan hidup. Dengan memperkuat ketahanan diri atau ketahanan spiritual, yang diejawantahkan dalam simbol-simbol Kuningan, diharapkan umat mampu menghadapi tantangan hidup atau mengatasi problem hidup yang makin kompleks.
Dikatakannya, saat Kuningan persembahan yang dipersembahkan serba kuning. Kuning merupakan simbol kesejahteraan dan keselamatan. ''Jadi, setelah menang melawan sifat-sifat tamas, umat diharapkan tidak lagi memelihara sifat-sifat pemalas. Setelah Kuningan ini, umat diharapkan bangkit menjadi insan-insan yang memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin, rajin, loyal dan selalu meningkatkan kualitas diri. Insan-insan demikianlah yang ideal menurut agama Hindu,'' kata Prof. Gunadha yang Direktur Program Pascasarjana Unhi ini.

Dosen IHDN Denpasar yang mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Kementerian Agama RI Dr. Wayan Suarjaya mengatakan makna di balik Kuningan sesungguhnya adalah agar umat mampu meningkatkan kemenangan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu dalam merayakan Kuningan orangtua kita menyarankan agar jangan sampai lewat pukul 12.00. Itu mengandung makna bahwa kemenangan dharma melawan adharma saat hari raya Galungan hendaknya selalu bisa ditingkatkan -- menanjak terus. Jadi, Kuningan itu merupakan puncak kemenangan. Karena itu pada hari raya Kuningan dipersembahkan nasi kuning sebagai simbol kesejahteraan.
Kata Suarjaya, sesungguhnya ada tiga nilai filosofi yang bisa dimaknai dari perayaan Kuningan. Pertama, umat hendaknya terus merasa terpanggil untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bersyukur kepada-Nya, karena kita telah dianugerahi kerahayuan, kesejahteraan dan kemenangan melawan sifat-sifat adharma.

Kedua, umat hendaknya selalu ingat terhadap jasa-jasa leluhur atau para pahlawan bangsa. Peran atau jasa para leluhur dan para pahlawan kita sangatlah besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu pada hari raya Kuningan, umat selalu mengaturkan banten sodan kepada sang Pitara sebagai rasa hormat kepada leluhur.

Ketiga, mengembangkan rasa cinta kasih kepada sesama. Kita adalah bersaudara, karenanya kita harus mampu hidup berdampingan secara rukun. Jangan karena perbedaan kita selalu berkonflik. Perbedaan ras, suku, agama adalah anugerah. Melalui perayaan Kuningan ini kita diharapkan bisa meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.