Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Renungan Galungan Rabu 8 Desember 2010

Banyak yang menilai bahwa realitas kehidupan masyarakat saat ini identik dengan materi, uang, harta-benda; segala sesuatu ditakar dan dihubungkan dengan materi. Ini dikatakan merupakan salah satu ciri ''Zaman Kali'' (Kaliyuga) di mana hanya dana (uang, materi/benda) yang diutamakan.

Di zaman Kali dengan peradaban kontemporer yang cenderung makin sekuler seperti sekarang ini, pengaruh materialisme (mementingkan materi/benda) dan kapitalisme (mengagungkan uang) telah merasuk bahkan kemudian dapat merusak tatanan mapan pada level konsep ideal. Semisal menabrak bhisama yang menjiwai perlindungan kawasan suci dengan konsekuensi adanya larangan membangun fasilitas/akomodasi profan. Praktik menabrak bhisama semacam ini merupakan fenomena profanisasi/sekularisasi yang ditandai dengan dimarginalkannya elemen spirit dari manusia, tepinggirkan oleh supremasi materi sebagai kekuatan yang ampuh mengatasi segala persoalan, setidaknya dari sisi pemenuhan kebutuhan materi-ekonomi.

Ini adalah bentuk real dari kekalahan telak manusia atas kekuasaan materi, sekaligus merupakan kelemahan utama peradaban kita di zaman Kali dewasa ini. Sebab, dengan memenangkan kekuasaan materi berarti akan terjadi degradasi pada nilai-nilai nonmateri, seperti idealisme, moralitas dan kesadaran spiritualitas itu sendiri, yang pada hakikatnya lebih mementingkan substansi (makna) dan esensi (nilai) daripada sekadar kepemilikan materi.

Kecenderungan kehidupan berbasis materi ini kian jelas di dalam realitas sosial. Manusia modern dengan paradigma utamanya bertumpu pada materi senantiasa mengedepankan bagaimana bisa memiliki materi lebih banyak, lebih banyak bukan bagaimana saya menjadi manusia yang lebih berkualitas, lebih bermoral dan lebih bermakna bagi kehidupan dan sesama melalui praktik nilai-nilai kemanusiaan.

Upacara, tempat-tempat ibadah serta keberadaan kawasan suci tempat di mana wilayah Bali dihormati sebagai Pulau Kahyangan, Pulau para Dewata, seharusnya menjadi inspirasi dan motivasi religi bagi manusia dewasa ini untuk meningkatkan sradha bhakti guna meningkatkan kualitas kehidupan. Di sisi lain, hari raya, hari-hari suci yang begitu tinggi frekuensinya dilaksanakan umat Hindu, termasuk Galungan dan Kuningan, sejatinya adalah momentum ritual untuk kebangkitan spiritual.

Namun, realitas yang kita saksikan saat ini justru kian memperjelas gaya hidup yang makin mengedepankan adharma. Banyaknya kasus amoral, asusila, perusakan alam lingkungan, termasuk pelecehan terhadap nilai-nilai sakral seperti maraknya pencurian benda-benda sakral di sejumlah pura di Bali oleh orang Bali (Hindu) sendiri, sungguh makin mengkhawatirkan kita. Teologi agama yang menghambakan Tuhan di era peradaban kontemporer yang makin sekuler seperti sekarang ini, ternyata dengan mudah dikalahkan oleh ideologi masa kini dengan ragam peradaban materialismenya.

Kehidupan sosial memang real dan pasti membutuhkan elemen material-finansial (materi, uang). Maka ketika niai-nilai idealitas harus berhadapan dengan realitas sosial dengan segala kebutuhan dan tuntutannya, yang patut ditumbuhkan adalah kesadaran iman, ketakwaan untuk memenangkan kesucian hati, kejernihan pikiran, dan spiritualitas agar dapat menghasilkan tindakan perilaku yang benar berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas sejati.

Pelaksanaan hari raya agama seperti Galungan-Kuningan dan lainnya seharusnyalah merupakan aktualisasi dari perilaku spiritual yang merefleksikan terjadinya perbaikan moral, akhlak dan kemanusiaan pada setiap individu umat Hindu.

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan, 8 dan 18 Desember 2010.