Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Weda Wakya

Ya atmada balada yasya visva

upasate prasisam yasya devah

yasya chaya-amrtam yasya mrtyuh,

kasmani devaya havisa vidhema.(Rgveda.X.121.2)


Maksudnya: Tuhan Yang Mahaesa memberikan kekuatan spiritual (rohani) dan fisikal (jasmaniah). Semua sinar sucinya yang disebut Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah keabadian, menjauhi kasihnya adalah kematian. Kami semuanya menghaturkan sembah kepada-Nya.

Hakikat beragama adalah sraddha dan bhakti kepada Tuhan. Mempercayai dan berbakti kepada Tuhan bukan berhenti pada percaya dan bhakti dengan sikap yang pasif. Tuhan itu menurut keyakinan Hindu adalah maha ada, mahaesa, maha kuasa, maha pengasih dan banyak sekali keagungan Tuhan yang tidak dapat dijangkau oleh kemampuan manusia yang serba terbatas.

Berbagai keagungan dan kemahakuasaan Tuhan itu dalam ajaran Hindu disebut Deva yang jumlahnya tak terhingga. Deva artinya sinar suci Tuhan yang senantiasa menuntun ciptaan-Nya semakin meningkat menuju ke arah yang benar, baik, suci dan mulia.

Manusia yang hidup di dunia sekala ini mengalami proses dari lahir, hidup dan akhirnya kembali ke dunia niskala. Di dunia sekala manusia mengharapkan hidupnya bahagia yaitu aman damai dan sejahtera. Sedangkan di alam niskala diharapkan mencapai sorga, terus moksha sebagai tujuan tertinggi. Manusia hidup di dunia sekala ini diberikan jiwa dan raga atau purusa dan pradana oleh Tuhan. Untuk mencapai hidup bahagia itu manusia harus berusaha menyeimbangkan proses purusa dan pradananya secara terpadu. Tuhan juga menjadi Dewa dan Dewi untuk menuntun keseimbangan pertumbuhan rohani dan jasmani manusia.

Tuntunan dinamika rohani dan jasmani itu dinyatakan dalam Mantra Rgveda dalam kutipan di atas. Umat yang mampu mendayagunakan pemujaannya pada Tuhan dengan sungguh-sungguh akan berhasil mendapatkan kekuatan spiritual dari kasih Tuhan. Pemujaan Tuhan sebagai Dewa dan Dewi seyogianya dimaknai dengan membangun dinamika rohani yang tenang dinamis mengarahkan atau menjiwai kehidupan duniawi. Dengan demikan akan terjadi proses kehidupan fisik yang semakin sehat dan bugar. Kehidupan fisik yang sehat dan bugar itu sebagai modal dasar untuk membangun kehidupan yang aman damai (raksanam) dan sejahtra (dhanam).

Tuhan sebagai objek Yang Maha Suci itu dipuja untuk mendapatkan daya spiritual untuk mendukung dinamika intelektual dan kepekaan emosional agar senantiasa berada pada jalan dharma. Demikianlah seyogianya pemujaan Tuhan dimaknai.

Kalau memuja Tuhan hanya karena tradisi ikut-ikutan, pemujaan seperti itu lambat laun akan dirasakan sebagai beban yang memberatkan hidup. Apalagi bhakti atau pemujaan Tuhan itu disertai dengan ritual wajib tanpa dasar sastra agama Hindu yang jelas akan banyak menimbulkan berbagai persoalan. Hal itu umumnya dibuat oleh sementara pihak yang kebetulan punya pengaruh dan wewenang tradisional atau pengaruh politik dan ekonomi dalam masyarakat serta tidak dibekali pengetahuan sastra agama yang memadai. Hal inilah banyak menimbulkan berbagai kesenjangan kehidupan beragama Hindu. Kesenjangan antara konsep agama dalam sastra suci dengan pelaksanaanya masih banyak yang berlawanan. Seperti upacara dan upakara yadnya. Kata ''upacara'' dalam bahasa Sansekerta artinya mendekat. Kata ''upakara'' dalam bahasa Sansekerta artinya melayani dan kata ''yadnya'' artinya ikhlas berkorban demi tujuan suci. Ini artinya dengan upacara upakara yadnya kita merasa semakin mendekatkan diri pada Tuhan dalam wujud bhakti, mendekatkan diri pada sesama dalam wujud pengabdian atau punia dan mendekatkan diri pada alam lingkungan (sarwa prani) dengan wujud kasih. Karena itu makna ''banten'' menurut Lontar Yadnya Prakerti: ''Sehananing bebanten pinaka ragan ta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka Anda Bhuwana''. Artinya, semua banten artinya lambang diri manusia itu sendiri, lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam (bhuwana). Ini artinya banten sebagai simbol sakral dalam agama Hindu seharusnya dimaknai untuk mendekatkan diri pada Tuhan dalam wujud bhakti, pada sesama manusia dalam wujud punia atau pengabdian yang tulus dan mendekatkan diri pada ''sarwa prani'' dalam wujud asih.

Pengamalan beragama dalam wujud bhakti pada Tuhan harus dapat dibuktikan dengan semakin lestarinya alam lingkungan. Lingkungan yang lestari itu dalam Sarasamuscaya 135 dinyatakan dengan istilah bhuta hita. Agar alam itu lestari lakukanlah bhuta yadnya. Konsep bhuta yadnya dalam Lontar Agastia Parwa sebagai berikut: ''Bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh.'' Artinya, bhuta yadnya adalah mengembalikan kelestarian alam itu dengan menyayangi tumbuh-tumbuhan. Konsep bhuta yadnya ini sudah diimplementasikan dalam berbagai kegiatan beragama Hindu dalam wujud ritual sakral yang bersifat niskala. Namun wujud sekala-nya masih belum banyak dilakukan. Karena itu pada musim hujan terjadi kebanjiran dan pada musim kemarau kekeringan. Ini artinya hutan kurang berfungsi sebaimana mestinya. Semestinya upacara bhuta yadnya itu diwujudkan secara niskala dan sekala. Wujud niskala-nya dengan ritual sakral untuk menguatkan daya spiritual. Sedangkan wujud sekala-nya dengan mendayagunakan daya spiritual untuk diaktualkan dalam langkah nyata yang kontektual menjaga kelestarian tanaman hutan dan tumbuh-tumbuhan lainya sehingga kehidupan manusia menjadi serasi dengan alam yang bersih dan hijau. Tetapi nyatanya upacara Bhuta Yadnya amat semarak di lain pihak pegerusakan hutan juga semarak. Usaha-usaha penghijauan di berbagai tempat memang ada dilakukan tetapi belum banyak dilakukan dalam rangka pengamalan agama atau Bhuta Yadnya. Artinya semaraknya Bhuta Yadnya belum seimbang dengan upaya melestarikan lingkungan dengan diawali dengan meningkatkan kwantitas dan kwalitas tananman hutan dan tumbuh-tumbuhan lainya sebagai wujud bhakti pada Tuhan.