Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bila Manusia Merusak Alam Tak Beda dengan Hewan

Bhutahita ikang ulaha, apanikang wwang lumaku, alungguh,

atangi, maturu kuneng, ndatan, pakapaiang bhutahita,

tan hana pahiningprawrtitininglawan ulahingpasu. (Sarasamuscaya 139)



Maksudnya: Berbuatlah untuk kesejahteraan alam (bhutahita), walaupun kita berjalan, duduk, bangun, tidur, tetapi tidak dipergunakan untuk menyejahterakan alam tidak bedanya kita dengan hewan.



BHAGAWAD Gita III.10 menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dan alam berdasarkan yadnya. Tuhan sebagai Brahman menjadi jiwanya alam dan menjadi Atman sebagai jiwanya manusia. Alam badan jasmaninya Tuhan merupakan sumber hidup dan penghidupan manusia. Rgveda I.12.16. menyatakan ada tujuh lapisan bumi dan Tuhan berstana di semua lapisan bumi tersebut. Dengan demikian terciptalah gerak dan perubahan-perubahan di tujuh lapisan bumi. Dari keterangan Mantra Rgveda ini dapat dipahami bahwa di setiap unsur alam ada kemahakuasaan Tuhan hadir di dalamnya. Karena itu merusak setiap unsur alam berarti manusia merusak badan Tuhan sendiri. Karena itu, Swami Satya Narayana menyatakan dalam pustaka Anandadayi bahwa kejahatan yang paling jahat di dunia ini adalah merusak unsur-unsur alam yang disebut Panca Maha Bhuta. Tuhan hadir di setiap unsur alam, menyebabkan unsur alam berproses dan berfungsi memberikan manfaat dalam menunjang kehidupan ciptaan Tuhan lainnya seperti manusia. Proses setiap unsur alam itu berdasarkan hukum alam yang disebut Rta ciptaan Tuhan. Misalnya air pasti mengalir menurun dan api pasti berkobar ke atas. Air bertemu tanah pasti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Setiap flora dan fauna pasti memiliki fungsinya masing-masing. Berbagai jenis tumbuhan misalnya ada yang mengandung karbohidrat, vitamin, protein, krorofil dan berbagai zat berguna lainnya. Hal itu terjadi karena ada kuasa Tuhan di dalam semua usur alam itu. Karena itu, manusia wajib menjaga kehidupan unsur-unsur alam tersebuyt dengan kasih, bijak dan cerdas sebagai wujud bakti pada Tuhan.

Pemanfaatan unsur alam jangan sampai melanggar eksistensi alam di luar hukum Rta yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Manusia dalam segala tindak-tanduknya harus selalu berusaha menyejahterakan semua unsur alam. Dengan sejahteranya semua unsur alam maka hal itulah sebagai dasar bagi manusia untuk mengembangkan hidup sejahtera. Oleh karena itu, Sarasamuscaya 135 menekankan agar melakukan upaya menyejahtrakan alam (bhuta hita) terlebih dahulu. Karena alam yang sejahtera itu sebagai dasar membangun hidup sejahtera bagi manusia. Kalau alam tidak sejahtera jangan harap manusia bisa hidup sejahtera. Manusia membutuhkkan udara yang tidak tercemar sebagai sumber oksigeen, air yang tidak tercemar dan tumbuh-tumbuhan yang murni sebagai bahan makanan utama bagi manusia. Alam selalu akan menjadi sumber kesejahteraan hidup manusia apabila manusia selalu juga menjaga kesejahteraan alam.

Manusia diberikan sabda, bayu dan idep melebihi hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kelebihan ini menyebabkan manusia disebut makhluk hidup yang paling utama di bumi ini. Karena itu manusia seyogianya menggunakan idep-nya mengendalikan bayu dan sabda-nya dalam dinamika hidupnya. Idep itulah yang semestinya diekspresikan oleh manusia sebagai bukti kelebihannya. Demikian pula hubungannya dengan Tuhan dan alam badanya Tuhan, seyogianya menggunakan bayu dan sabda yang dikendalikan oleh idep. Tanpa idep tentunya manusia sama saja dengan hewan, terutama hubungannya dengan Tuhan dan alam. Kalau manusia hanya menggunakan bayu dan sabda dalam mengolah alam akan seperti hewan hanya mementingkan kenikmatan diri sendiri. Seperti kera makan buah yang sudah ranum tidak pernah memikirkan bagaimana memelihara pohon buah itu agar senantiasa menghasilkan buah sebaik mungkin. Tenaga yang dimiliki dan kemampuan untuk bicara harus senantiasa digunakan dengan kendali idep. Idep itu adalah kecerdasan yang meliputi kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Faktanya, alam dewasa ini semakin terpuruk, bencana alam bertubi-tubi terjadi di seluruh dunia. Terjadi banjiir di mana-mana saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Konon menurut ahli kehutanan hal itu terjadi karena lemahnya fungsi hutan. Hutan banyak digundul oleh ulah manusia yang mengeksploitasi hutan demi keuntungan yang sempit. Salah satu fungsi hutan adalah meresap air di musim hujan dan mengalirkan air di musim kemarau. Fungsi hutan untuk meresap dan mengalirkan air inilah yang menurun karena penebangan hutan yang sangat liar. Di samping hutan yang sudah rusak juga polusi udara sudah makin parah, tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan makin tercemar. Kuantitas dan kualitas air makin menurun.

Prof. Dr. Emil Salim menyatakan sudah terjadi sepuluh jenis kerusakan di kulit bumi ini yang dimulai dari puluhan tahun yang lalu. Ini terjadi, menurut Emil Salim, karena bergesernya orientasi gaya hidup manusia dari hidup berdasarkan kebutuhan, bergeser menjadi gaya hidup berdasarkan dorongan hawa nafsu. Nafsu itu ibarat api makin dikasi minyak akan makin berkobar. Nafsu makin dipenuhi akan makin bergejolak minta dipuaskan terus. Orientasi hidup berdasarkan gejolak hawa nafsu inilah yang mengeksploitasi alam berlebihan yang menyebabkan daya dukung alam makin tak mampu mendukung pemenuhan keinginan umat manusia. Di samping itu hidup berdasarkan dorongan hawa nafsu itu menyebabkan munculnya kesenjangan ekonomi yang makin tajam antara si kaya dengan si miskin.

Keadaan alam yang makin rusak ini salah penyebab utamanya karena kecerdasan intelektual dan emosional terlalu hebat melampui kecerdasan spiritual dalam mengelola alam. Kalau kita hubungkan dengan Sarasamuscaya 139 yang dikutip di atas maka manusia masih setara dengan hewan dalam memperlakukan alam. Bahkan mungkin lebih buruk karena merusak alam dengan kecerdasan intelektual tanpa landasan kecerdasan spiritual. Semoga kita semakin sadar.