Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Penyucian Ilmu Pengetahuan

Na hi jnyanena sadrisam

pavitram iha vidyate

tat svayam yogasam siddhah

kaalena’mani vindati (Bhagavad Gita IV.38).

Maksudnya: Tidak ada sesuatu di dunia ini yang dapat menyamai kesucian ilmu pengetahuan (jnana). Mereka yang sempurna dalam yoga akan memenuhi dirinya sendiri dalam jiwanya pada waktunya.

Tujuan Tuhan menurunkan ilmu pengetahuan untuk menuntun umat manusia agar mengetahui, mengerti dan memahami dirinya dan alam semesta tempat manusia mengembangkan kehidupanya. Hidup yang baik adalah selalu berada pada jalan dharma. Dharmo raksati raksatah. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VIII.15. Artinya siapapun yang melindungi dharma dia akan dilindungi oleh dharma. Bagaimana agar manusia dapat melindungi dharma. Pertama dan paling utama adalah menguatkan keyakinan bahwa Tuhan itu maha adil dan maha pelindung. Karena itu lakukanlah sradha dan bhakti pada Tuhan setulus-tulusnya. Selanjutnya kuatkan kesadaran budhi menguasai kecerdasan intelektual. Pahami bahwa Tuhan juga menyemaikan citta atau idep yaitu alam pikiran pada diri setiap manusia. Manusia seharusnya mendayagunakan citta itu agar memiliki kesadaran ilmu untuk dengan cerdas melindungi dharma. Penguasaan ilmu itu maha penting dalam menegakkan dharma. Menegakkan dharma tanpa ilmu, akan mubazir. Karena itu carilah ilmu itu sepanjang zaman. Canakya Nitisastra V.15 juga menyatakan: ''Vidya mitram pravaasesu'' yang artinya sahabat yang paling dekat adalah ilmu atau vidya, apalagi di negeri orang. Demikian juga Kekawin Nitisastra II.5 menyatakan: ''Norana mitra mangelewihane wara guna maruhur.'' Artinya, tidak ada sahabat yang melebihi ilmu pengetahuan yang luhur. Dalam Canakya Nitisastra IV.15 ada dinyatakan ''Anabhyaase visam sastram.'' Maksudnya, ilmu pengetahuan atau sastra yang tidak diamalkan akan menjadi racun. Selanjutnya Canakya Nitisastra V.8 menyatakan, ''Abhyaasaad dhaaryate vidya'' yang artinya peliharalah ilmu pengetahuan dengan cara mempraktikan dengan membiasakannya dalam hidup.

Karena itu dalam Bhagawad Gita IV.33 dinyatakan: Sreyan dravya-mayad yajnaj, jnyana yajnyah paramtapa. Artinya, ilmu pengetahuan merupakan yadnya yang lebih utama dibandingkan beryadnya dengan harta benda. Di India ada upacara Vijaya Dasami atau upacara untuk mengingatkan umat manusia untuk memenangkan dharma. Sedangkan di Nusantara, terutama di Bali umat Hindu memiliki Hari Raya Galungan. Kata Vijaya dalam bahasa Sansekerta dan Galungan dalam bahasa Jawa Kuna artinya sama yaitu menang. Vijaya Dasami di India dirayakan berdasarkan Tahun Surya pada bulan April dan Oktober. Sedangkan Galungan di Nusantara dirayakan berdasarkan tahun wuku yaitu pada saat Wuku Dungulan. Kata Dungulan dalam bahasa Jawa Kuno juga tidak jauh beda artinya dengan Galungan. Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan sebagai berikut: ''Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan, patitis ikang jnyana sandhi galang apadang mariakena byaparaning idep.'' Maksudnya, Rebo Kliwon Wuku Dungulan namanya Galungan untuk mengarahkan semua ilmu agar terpadu oleh para jnyanin (ilmuwan) untuk bersinergi agar membuat cerahnya hati masyarakat (galang apadang) untuk menghilangkan kegelapan hati (byaparaning oidep). Nampaknya konsep Sastra Suci Weda yang dinyatakan di atas diimplementasikan dalam perayaan Galungan sangat nyambung dengan arahan yang tertera dalam Lontar Sunarigama. Bahkan dalam Lontar Sunarigama ada dinyatakan juga merayakan Embang Sugi sebagai berikut: ''Embang Sugi anyekung jnyana nirmalakene.'' Ini artinya jnyana yang dipadukan itu untuk dibersihkan dari berbagai mala atau kekotoran agar benar-benar dapat mencapai nirmala untuk mencerahkan alam kejiwaan umat. Jnyana yang dipadukan untuk mencapai nirmala artinya jnyana itu benar-benar diaplikasikan dengan murni terpadu untuk mengangkat harkat dan martabat umat sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Karena ilmu dapat membuat orang mabuk maka muncullah teks tentang Embang Sugi dalam Sunarigama. Ini artinya perayaan Galungan dan juga hari raya Hindu mengandung nilai-nilai universal dalam kemasan budaya lokal Bali atau Nusantara. Kalau nilai-nilai suci Hindu tentang pengelolaan ilmu tersebut dievaluasi setiap merayakan Galungan maka jumlah ilmuwan mabuk kepintaran dan oknum pejabat mabuk kekuasaan dapat semakin dikurangi. Kalau ilmuwan mabuk dan pejabat mabuk itu artinya ilmu masih mengotori sementara manusia. Bukan salahnya ilmu tetapi manusia yang punya ilmu itulah yang belum bisa mendayagunakan ilmu itu untuk mengelola hidupnya. Kalau para ilmuwan dan pejabat tidak mabuk maka mereka akan benar-benar mengurus peningkatan harkat dan martabat rakyat untuk hidup aman, adil dan makmur lahir batin.

Dengan konsep pengelolaan ilmu dan ilmuwan menjadi suci, dapat dijadikan acuan dalam mengamati perayaan Galung kini dan seterusnya. Hari Raya Galungan mengingatkan umat Hindu agar menjadikan hari itu momen untuk mengevaluasi upaya memelihara dan menerapkan ilmu agar terus berkembang dan teruji kemampuannya untuk digunakan menegakkan dharma. Karena, kalau ilmu tidak diterapkan akan menjadi racun. Setiap merayakan Galungan marilah kita amati kembali, sudahkan kita rayakan Galungan itu sesuai dengan tattwa yang ada dalam pustakanya. Boleh saja kita rayakan semeriah mungkin, tetapi jangan sampai menyimpang dari makna perayaan itu untuk memenangkan kehidupan berdasarkan dharma. Inti perayaan Galungan itu menghaturkan banten Tumpeng Galungan sebagai banten pokok. Tumpeng Galungan itu melambangkan keadaan bhuwana Agung ini sebagai wadah kehidupan yang aman damai dan sejahtera berdasarkan dharma. Keadaan bhuwana agung wadah kehidupan semua makhluk yang demikian itulah yang harus kita terus wujudkan dengan dasar memadukan penerapan ilmu pengetahuan. Tentunya akan menjadi mubazir kalau perayaan Galungan demikian meriahnya sedangkan alam semakin rusak dan kebersamaan sosial semakin merenggang dan ilmu semakin tidak digunakan dalam mengatasi berbagai persoalan. Jangan gunakan emosi yang bergejolak dan otot yang kekar mengatasi persoalan hidup di bumi ini. Analisalah dengan ilmu atau jnyana semua persoalan hidup di bumi ini. Hindari merayakan Galungan hanya untuk berhura-hura. Apalagi boros, karena boros tenaga, waktu, uang dan makanan sangat dilarang agama Hindu.