Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Desa Pakraman

Jagat pratistathaa Brahma, Wisnu palayito bhawet

Rudra sangharake loke, jagat sthawara janggamah.

(Bhuwana Kosa, VII.27).

Maksudnya: Tuhan saat menciptakan disebut Dewa Brahma, saat memelihara dan melindungi ciptaan-Nya disebut Dewa Wisnu dan saat mengakhiri keberadaan ciptaan-Nya disebut Dewa Rudra. Demikianlah manusia dan semua makhluk hidup ciptaan-Nya tercipta, terpelihara dan kembali pada asalnya, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.

Diperkirakan pada abad ke-11 Masehi Mpu Kuturan menganjurkan pendirian Kahyangan Tiga di desa pakraman. Tentunya ada tujuan mulia mengapa Beliau menganjurkan pendirian tiga tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Dalam Lontar Mpu Kuturan juga dinyatakan bahwa desa pakraman itu dibangun berdasarkan petunjuk pustaka suci (manut linging Sang Hyang Aji) oleh Sang Catur Varna. Ini artinya desa pakraman itu adalah unit sosial religius Hinduistis. Lembaga sosial umat Hindu yang disebut desa pakraman itu didirikan untuk mengamalkan ajaran Hindu agar sampai mentradisi. Hal ini sangat sesuai dengan pernyataan Sarasamuscaya 260 yang menyatakan dengan istilah Weda abyasa yang maksudnya membiasakan mengamalkan ajaran suci Weda. Pentradisian Weda itu menurut Manawa Dharmasastra I.89 sampai mengantarkan kebiasaan hidup yang kuat menuntun umatnya mencapai kehidupan yang raksanam dan dhanam. Artinya hidup yang aman dan sejahtera.

Hakikat desa pakraman mengupayakan kehidupan bersama dengan program-program yang aktual dan kontekstual. Dengan program itu, tahap demi tahap kehidupan bersama yang aman (raksanam) dan sejahtera (dhanam) akan semakin terwujud. Hal inilah yang seyogianya menjadi fokus desa pakraman.

Hidup ini adalah suatu proses dari utpati, sthiti dan pralina. Tiga proses ini disebut Tri Kona. Dalam pustaka Bhuwana Kosa.IV. 33 ada dinyatakan: ''Tuhanlah yang menciptakan seluruh alam dengan segala isinya. Tuhan sebagai perwujudan utpati, sthiti dan pralina (tercipta, terpelihara dan tiada). Ini artinya semua makhluk ciptaan Tuhan tidak akan pernah tidak melalui ketiga proses itu. Tuhan pun turun menjadi Tri Murti untuk menuntun umatnya agar sukses menjalankan proses hidup dengan hukum Tri Kona. Hakikat hidup adalah menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan, memelihara sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan meniadakan sesuatu yang sepatutnya ditiadakan.

Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat agar sukses menjalankan proses hidup utpati, sthiti dan pralina. Menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan, pujalah Tuhan sebagai Dewa Brahma. Memelihara segala sesuatu dalam hidup ini tidaklah mudah. Untuk mendapat kekuatan rokhani dalam memelihara dan melindungi itu pujalah Tuhan sebagai Dewa Wisnu. Untuk meniadakan sesuatu yang sepatutnya ditiadakan pujalah Tuhan sebagai Dewa Siwa atau Iswara. Inilah tujuan pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali.

Ini artinya hakikat desa pakraman adalah sebagai lembaga umat Hindu untuk mengamalkan ajaran Tri Kona. Ajaran Tri Kona itu untuk menciptakan iklim hidup masyarakat yang dinamis dan kreatif positif. Utpati artinya hidup ini hendaknya kreatif menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan di desa pakraman. Sthiti artinya desa pakraman hendaknya kreatif untuk memelihara dan melindungi segala sesuatu yang semestinya dilindungi. Demikian juga dalam hal meniadakan sesuatu yang sudah usang dan tidak relevan dengan dharma wajib ditiadakan agar proses menuju cita-cita mulia Agama Hindu terwujud. Ini artinya mengamalkan ajaran Tri Kona di desa pakraman ini agar hidup ini senatiasa dinamis menuju hidup yang ananda yaitu bahagia lahir batin. Isi Weda adalah sanatana dharma kebenaran yang kekal abadi. Tetapi penerapannya harus nutana artinya dinamis selalu diremajakan sesuai dengan kebutuhan zaman dalam mengamalkan dharma.

Mengamalkan ajaran Tri Kona di desa pakraman dengan pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga bukan sekadar ada perubahan dan dinamika. Perubahan itu harus ke arah yang lebih baik, benar dan wajar. Apalagi dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan dalam diri manusia ada Citta Aiswarya sebagai salah satu unsur Catur Budhi yang senantisa mendorong manusia berniat baik meningkatkan diri ke arah yang semakin baik, benar dan mulia. Sifat-sifat inilah yang senantiasa didorong dalam masyarakat oleh desa pakraman sehingga menumbuhkan umat yang sehat, sabar dan ulet dalam menghadapi dinamika hidup untuk mencapai perubahan ke arah positif. Agar perubahan itu senantiasa mengarah yang positip maka umat harus dididik untuk menguasai Tri Gunanya. Peras ngarania prasida Tri Guna Sakti. Artinya sukses itu dicapai dengan menguatkan Tri Guna yaitu Sattwam, Rajah dan Tamah. Untuk mengedalikan Tri Guna ini Tuhan turun menjadi Tri Murti. Menurut pustaka Matsya Purana 53. Sloka 68 dan 69 ada dinyatakan bahwa Brahma, Wisnu dan Siwa adalah Guna Awatara. Artinya Tuhan menuntun umatnya yang bhakti mengendalikan Tri Gunanya. Melindungi sifat Sattwam Tuhan di puja sebagai Dewa Wisnu. Untuk mengendalikan Guna Rajah Tuhan dipuja sebagai Dewa Brahma. Sedangkan untuk mengendalikan Guna Tamas Tuhan dipuja sebagai Dewa Siwa. Tri Guna ini akan kuat mendukung kesucian Atman menyinari hidup manusia apabila Tri Guna itu berada di bawah kendali kecerdasan intelektual, kesadaran budhi dan kesucian Atman. Pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di samping untuk menuntun umat mengamalkan ajaran Tri Kona juga untuk menuntun umat mengendalikan Tri Guna. Untuk membangun Tri Guna yang sakti sesungguhnya Desa Pakraman dapat membuat program-program yang aktual dan kontektual menuju Desa Pakraman yang aman dan sejahtera. Wrehaspati Tattwa 21 menyatakan bahwa: Kalau alam pikiran (Citta) itu kuat dan seimbang dipengaruhi oleh Guna Sattwam dan Guna Rajah maka Guna Sattwam itu membuat orang berkehendak baik sedangkan Guna Rajah membuat orang nyata berbuat baik. Karena itu Tri Guna yang komposisinya ideal itu akan dapat membuat orang jadi sukses dalam hidupnya. Demikianlah latar belakang tattwa keberadaan desa pakraman di Bali yang oleh ahli Belanda disebut desa adat.