Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Tri Kaya Parisudha Sebagai Landasan Pendidikan

Tri Kaya Parisudha sebagai landasan pendidikan

Tri Kaya Parisudha

Tri Kaya Parisudha berasal dari kata:
  • “Tri” yang berarti tiga, 
  • “Kaya” berarti perilaku atau perbuatan, dan 
  • “Parisudha” yang berarti baik, bersih, suci atau disucikan. 
Tri Kaya Parisudha maknanya tiga sikap manusia berbentuk pemikiran, pengucapan, dan tindakan yang perlu disucikan. Pemikiran, pengucapan, dan tindakan yang disucikan ditujukan sikap manusia yang bagus atau sikap manusia itu jangan dikotori dengan sikap yang tidak bagus. Ke-3 sikap yakni memikir, berbicara, dan melakukan perbuatan yang bagus selalu harus jadi dasar terutamanya untuk umat Hindu dan untuk umat manusia biasanya jalani kehidupan setiap hari, hingga terbentuk jalinan yang serasi di antara manusia dengan lingkungannya, manusia dengan sesamanya, dan munusia dengan maha pembuat.


Tri Kaya Parisudha dapat disimpulkan sebagai tiga landasan perilaku manusia yang perlu disucikan, yakni manacika, wacika, dan kayika. Manacika bermakna pemikiran baik, wacika bermakna pengucapan baik, dan kayika bermakna tindakan yang bagus. Ada pemikiran yang bagus akan memicu pengucapan yang bagus, hingga diwujudkanlah tindakan yang bagus juga ( Sukartha dalam Suhardana, 2007: 26). Jadi pada intinya pengucapan dan tindakan mengambil sumber atau bermula dari pemikiran. Pemikiran yang bagus akan membimbing manusia berbicara atau melakukan perbuatan yang bagus juga. Dari konsep itu, karena itu yang paling dahulu harus dikontrol manusia ialah pemikirannya. Beberapa hal yang memengaruhi pemikiran selalu harus terbangun, seperti konsistensi jiwa atau emosi, keperluan akan kesehatan raga dan jiwa, terhitung keperluan akan seni. Dengan jiwa yang tenang orang bisa mengatur pemikirannya hingga bisa memikir dengan jernih yang pada akhirnya akan dicetuskan berbentuk pengucapan yang bagus dan tindakan yang bagus.

Kitab Suci Weda mengajar supaya umat manusia menghindari diri dari kejahatan dan tindakan dosa dan singkirkan kebencian. Umat manusia supaya selalu melakukan perbuatan dharma, dengan perkataan yang manis sebaiknya dan selalu melakukan perbuatan kebaikan. Manusia seharusnya selalu menyucikan pemikiran dan budhinya (Suhardana, 2007: 107). Pengakuan itu seperti yang diberikan dalam Tri Kaya Parisudha yakni memikir baik, berbicara baik dan melakukan perbuatan baik. Memikir baik, berbicara baik dan melakukan perbuatan baik jadi landasan dan pandangan hidup untuk umat Hindu dan untuk umat manusia biasanya, hingga kerukunan, ketentraman dan kenyamanan di kehidupan warga bisa terbentuk sesuai arah agama Hindu dan arah pengajaran biasanya.

Factor-Faktor yang Menghalangi dan Memberikan dukungan dalam Memberikan Nilai-Nilai Tri Kaya Parisudha sebagai Dasar Pengajaran dalam Membuat Adab Mulia Peserta Didik di Sekolah

Manusia ialah makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai kelebihan dibanding dengan makhluk yang lain. Manusia mempunyai kelebihan berbentuk manas atau manah. Manas atau manah itu bermakna pemikiran. Pemikiran ialah pokok dari segala hal. Dari ke-3 elemen Tri Kaya Parisudha, pemikiran ialah paling dasar, yang bisa memunculkan ada pengucapan atau tindakan. Karenanya pemikiran ialah terpenting untuk dikontrol. Jadi pada hakekatnya manusia ialah makhluk yang aktif memikir. Dari fakta itu, manusia mempunyai dua watak atau karakter pemikiran yakni pemikiran baik dan pemikiran jelek. Pemikiran yang bagus jadi dasar untuk berbicara dan melakukan perbuatan yang bagus, kebalikannya pemikiran yang jelek akan membawa seorang untuk berbicara dan melakukan perbuatan yang tidak bagus.

Tri Kaya Parisudha yakni memikir baik, berbicara baik, dan melakukan perbuatan baik, sebaiknya bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Secara empiris fakta hidup manusia, kerap kita temui dua karakter manusia yakni manusia yang berperangai baik dan manusia yang berperangai jelek. Ini kerap ditemui di sekolah, yakni peserta didik yang berperangai baik dan peserta didik yang berperangai tidak bagus atau buruk. Sikap peserta didik yang bagus atau tidak bagus sama berkesempatan bisa berbeda. Sikap baik dapat lebih bagus kembali atau menjadi tidak bagus, kebalikannya sikap yang tidak bagus bisa beralih menjadi baik atau jadi lebih jelek kembali. Ini bisa disebabkan karena faktor-faktor yang bisa memberikan dukungan dan menghalangi dalam penanaman nilai-nilai norma yang terdapat dalam Tri Kaya Parisudha.
Beberapa faktor yang bisa menghalangi dan memberikan dukungan dalam penanaman nilai-nilai norma yang terdapat dalam Tri Kaya Parisudha, diantaranya:
  1. Factor sosial budaya. Sosial budaya adalah perilaku atau rutinitas manusia di kehidupan setiap hari. Perilaku atau rutinitas-kebiasaan hidup manusia akan punya pengaruh pada proses evaluasi, terhitung dalam penanaman nilai-nilai norma yang terdapat dalam Tri Kaya Parisudha. Anak yang tumbuh di lingkungan warga yang mempunyai tata krama bermasyarakat yang bagus, mempunyai santun sopan dan mempunyai sikap sama-sama menghargakan, pasti anak itu akan terlatih menyaksikan dan lakukan sikap-perilaku yang bagus. Demikian pula, anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang tidak serasi, pasti akan punya pengaruh pada permasalahan perubahan psikis sang anak yang condong ke arah beberapa hal negatif.
  2. Factor lingkungan. Factor lingkungan yang diartikan punya pengaruh pada proses penanaman nilai-nilai norma yang terdapat dalam Tri Kaya Parisudha ialah factor lingkungan keluarga, sekolah dan warga. Pada factor sosial budaya sudah disentil mengenai rutinitas warga dan orangtua yang bisa memengaruhi perubahan pengajaran anak. Contoh sikap yang lain akan berpengaruh pada perilaku sang anak, misalkan: anak yang tumbuh di lingkungan warga senang minuman keras (mabok-mabukan), anak yang tumbuh di lingkungan keluarga perokok dan anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang suka taruhan. Rutinitas-kebiasaan beginilah yang bisa menghalangi dalam penanaman nilai-nilai norma ke peserta didik. Kebalikannya, anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga baik akan memberikan dukungan dan mempermudah dalam memberikan nilai-nilai norma. Bagaimana dengan lingkungan sekolah? Sekolah adalah tempat untuk mengadakan pengajaran resmi. Lingkungan sekolah yang memberikan dukungan proses evaluasi ialah mempunyai lingkungan belajar yang aman, hingga memungkinkannya peserta didik bisa belajar secara baik, terhitung dalam penanaman nilai-nilai norma untuk meningkatkan adab mulia peserta didik.
  3. Factor perubahan tehnologi. Dampak global memungkinkan peserta didik gampang tercemar oleh beberapa hal yang bisa menghancurkan perilaku mereka, seperti dampak tehnologi berbentuk HP, Netbook dan media internet yang mempermudah dalam mentransformasi satu pesan berbentuk gambar atau video atau film. Di satu segi, beberapa hasil tehnologi benar-benar dibutuhkan untuk mempermudah dan percepat rutinitas-aktivitas manusia terhitung rutinitas dalam belajar, sedang di lain sisi beberapa hasil tehnologi bisa menjerumuskan pemakainya ke beberapa hal negatif. Sebagai hasil contoh tehnologi berbentuk HP yang disebut alat berkomunikasi yang mempunyai sarana-fasilitas hebat, seperti musik, gambar, film, camera dan sarana internet. Dengan HP, manusia bisa berkomunikasi secara cepat meskipun rekanan komunikasi ada di tempat yang jauh atau di negara lain. Tapi jika sang pemakai alat itu, tidak didasari oleh adab mulia yang ideal pasti gampang terperosok lakukan beberapa hal yang aneh atau negatif dengan sarana yang ada di HP.
Untuk menghindari dan merubah penyimpangan-penyimpangan perilaku, maka diperlukan usaha bagi kalangan pendidik di sekolah dalam mengembangkan potensi akhlak mulia peserta didik, yaitu dengan penanaman nilai-nilai etika seperti nilai-nilai etika yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha. Tri Kaya Parisudha dewasa ini masih cukup berperan baik dalam menumbuhkan akhlak mulia kepada peserta didik seperti yang diamanatkan dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk  mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri  dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini dapat dilihat kenyataan peserta didik di sekolah-sekolah yang ada di Bali penyimpangannya relatif kecil kalau dibandingkan dengan peserta didik yang ada di sekolah-sekolah di luar Bali, misalnya di Jawa Timur siswa putri membentuk Geng Nero dengan perilaku-perilaku yang tidak baik seperti yang dilansir oleh media televisi.

Upaya yang dapat Dilakukan dalam Menanamkan Nilai-Nilai Tri Kaya Parisudha sebagai Landasan Pendidikan dalam Membangun Akhlak Mulia Peserta Didik di Sekolah

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Tri Kaya Parisudha terdiri dari tiga bagian, yaitu:
  1. Manacika atau berpikir yang baik,
  2. Wacika atau berkata yang baik, dan 
  3. kayika atau berbuat yang baik. 
Sebagai umat manusia yang merupakan mahluk termulia, hendaknya kita menjalankan tiga aktivitas suci tersebut sehingga kemuliaan kita sebagai manusia tetap terjaga. Selain itu, dengan melakukan tiga aktivitas tersebut diharapkan sikap saling menghargai antar sesama, perdamaian, kerukunan, kebahagiaan, dan segala hal yang baik akan segera terwujud.

MANACIKA

yang berarti pikiran yang baik atau suci. Berfikir baik tanpa kekotoran, dan tanpa ada rasa kebencian atau kemarahan. Hindarkanlah pikiran mengecilkan dan mencurigai orang lain, akibat rasa sombong dan merasa lebih tinggi. Karena pikiran itu, ibarat menanam benih celaka. Upaya kongkritnya adalah dengan selalu berpikir positif dalam setiap kondisi, seperti:
  1. Biasakanlah berpikir dan bersikap welas asih atau kasih sayang terhadap sesama mahkluk dan memupuknya secara terus menerus.
  2. Belajarlah mengendalikan diri, agar rasa iri dan dengki dapat ditiadakan dan tidak timbul lagi dalam pikiran.
  3. Sibukkanlah diri dengan rajin bekerja, sehingga tidak ada kesempatan bagi pikiran untuk ngelamun atau memikirkan yang bukan-bukan. Sibuk dengan pekerjaan sendiri, tentunya tidak akan ada peluang untuk memikirkan hal yang aneh-aneh.
  4. Tanamkan terus pikiran dan sikap pengendalian diri yang baik, sehingga kita mudah memberi maaf kepada orang lain dan tidak cepat marah maupun putus asa.
  5. Selalulah berpikir yang baik dan benar, sehingga nafsu atau keinginan buruk yang timbul karena pengaruh lingkungan dan panca indriya, dapat ditiadakan.
  6. Biasakanlah berpikir, berkata dan berbuat yang baik, sehingga kita dapat menjadi manusia yang berbudi luhur dan beriman teguh antara lain dengan melaksanakan tapa, brata, yoga, dan Samadhi.

WACIKA

yang berarti perkataan yang baik/suci. Upaya kongkritnya adalah dengan berkata sopan terhadap sesama tanpa memandang statusnya. Status yang dimaksud termasuk umur, jabatan, posisi dan sebagainya. Berawal dari pikiran, akan timbul perkataan. Perkataan adalah sabda pemikiran yang akan berlanjut menjadi tindakan. Tutur kata yang santun, enak, sedap dan tidak keras. Maksud yang diutarakan jelas dan disusun secara teratur. Untaian kata mengundang keakraban dan mudah untuk diterima. Kata-kata dipilih yang santun dan tak berkepanjangan. Sikap dan gaya bicara, cukup seperlunya tidak perlu dilebih-lebihkan, yang penting, apa yang diuraikan membuat senang siapapun yang mendengarkannya.

KAYIKA

yang berarti perbuatan yang baik/suci. Upaya kongkrit dari kayika adalah dengan melakukan kegiatan membantu sesama manusia baik berupa phisik maupun non-phisik. Perilaku atau perbuatan harus dilaksanakan dengan baik dan benar. Setiap perbuatan, apakah perbuatan baik ataukah perbuatan buruk akan dapat menimbulkan apa yang dinamakan buah karma. Perbuatan yang baik akan menimbulkan buah karma yang baik. Sebaliknya perbuatan yang buruk akan menimbulkan karma buruk. Buah karma itu adalah pahala atau hasil dari perbuatan kita. Semua manusia tentu tidak ingin memetik buah karma buruk. Semua orang ingin mendapatkan buah karma baik. Karena itu janganlah berbuat yang tidak baik yang dapat menciptakan buah karma buruk.
Menurut orang bijak, waspadalah terhadap pikiran anda, karena ia akan menjadi kata-kata anda. Waspadalah terhadap kata-kata anda, karena ia akan menjadi tindakan anda. Waspadalah terhadap tindakan anda, karena ia akan menjadi sikap anda.

Bagaimana mengimplikasikan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha kepada peserta didik di sekolah?
Di atas telah dijelaskan langkah konkrit dari berpikir, berkata dan berbuat yang baik. Penanaman nilai-nilai tersebut tidak serta merta hanya dilingkungan sekolah saja, melainkan harus dimulai dari keluarga peserta didik termasuk juga lingkungan masyarakat. Peserta didik yang tumbuh di lingkungan keluarga yang baik, tentu akan lebih mudah dalam menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha. Menanamkan nilai-nilai etika Tri Kaya Parisudha tidak dapat dilakukan hanya sekedar dengan tutur kata saja, namun seorang guru harus menjadi tauladan dalam mengimplikasikan nilai-nilai etika Tri Kaya Parisudha. Dalam melakukan kegiatan pembelajaran seorang guru harus mengantarkan materi pelajaran dengan tutur kata yang santun dan perilaku yang sopan, sehingga peserta didik terbiasa mendengar dan melihat langkah konkrit dari pelaksanaan nilai-nilai etika yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha. Dengan tauladan para guru akan dapat mempengaruhi perilaku-perilaku peserta didik.

Manfaat Penanaman Nilai-Nilai Tri Kaya Parisudha sebagai Landasan Pendidikan dalam Membangun Akhlak Mulia Peserta Didik di Sekolah

Tri Kaya Parisudha atau berpikir yang baik, berkata baik dan berbuat baik tentu mempunyai tujuan yang sangat baik bagi peserta didik dalam kehidupan masyarakat, khususnya umat Hindu. Secara umum Tri Kaya Parisudha dapat dikatakan mempunyai tujuan seperti dibawah ini :
  1. Untuk mengembangkan sifat dan sikap jujur dan setia dalam berpikir, berkata maupun berbuat bagi bagi peserta didik dan masyarakat pada umumnya.
  2. Untuk menumbuh kembangkan sikap mental yang bertanggung jawab tanpa diawasi oleh orang lain.
  3. Untuk menumbuhkan kesadaran guna berbuat baik dan mengenal berbagai akibat yang dapat timbul dari pikiran, perkataan dan perbuatan yang dilakukan.
  4. Untuk memberi petunjuk yang baik dan perlu dimiliki serta disadari dalam bergaul, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
  5. Untuk mengajarkan agar manusia selalu waspada dan hati-hati terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan, karena baik pikiran, perkataan maupun perbuatan itu dapat menyebabkan orang lain tidak senang, sedih atau marah, sehingga pada gilirannya dapat menimbulkan kesusahan pada diri sendiri.
Penanaman nilai-nilai Tri Kaya Parisudha di lingkungan pendidikan sangat bermanfaat dalam pengembangan potensi peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia. Manfaat-manfaat yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  1. Bagi peserta didik yang memiliki karakter atau sifat baik akan menjadi manusia lebih potensial dan untuk memperkokoh iman agar tidak mudah kena pengaruh yang buruk.
  2. Bagi peserta didik yang memiliki karakter atau sifat tidak baik, melalui penanaman nilai-nilai Tri Kaya Parisudha akan menjadi harapan berubah menjadi manusia yang lebih baik, sehingga tidak terjerumus ke hal-hal yang lebih buruk lagi.
  3. Peserta didik yang patuh dengan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha sehingga menjadi manusia berakhlak mulia akan lebih mudah dalam mengembangkan potensi-potensi lainnya, seperti kecerdasan, kreatiftas, tanggung jawab, dan sebagainya.
  4. Peserta didik yang patuh dengan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha akan selalu hidup rukun, tentram dan damai dalam lingkungan masyarakat.
demikian sekilas tentang  Tri Kaya Parisudha, semoga bermanaat.