Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Satuan Ukur dalam Arsitektur Bali

Satuan Ukur dalam Arsitektur Bali

Satuan Ukur dalam Arsitektur Bali

Unit ukur dalam arsitektur tradisionil Bali disebutkan dengan "GEGULAK", yang di turunkan dari beberapa bagian fisik pemilik atau pengguna bangunan. Unit ukur ini diputuskan dalam sebilah bambu sebagai modul landasan. Lewat gegulak dipastikan ukuran tiap dimensi arsitektur dimulai dari ukuran pekarangan, tatanan letak periode bangunan sampai pada komponen bangunan yang kecil, misalnya:
  • panjang tiang (sesaka), 
  • panjang balok tarik (lambang, pementang, dan tada paksi), 
  • panjang usuk (iga-iga), 
  • hiasan pada tiang (kekupakan). dll
Ukuran pekarangan digunakan satuan DEPA, yakni ukuran panjang tangan terentang dari ujung jari kanan ke ujung jari kiri dengan variasi "depa alit", "depa madia" dan "depa agung". 

Jumlah kelipatan satuan ukur depa yang ditambah "PENGURIP" merupakan panjang sisi-sisi pekarangan yang diukur.

Untuk ukuran tata letak masing-masing masa bangunan didasarkan pada satuan ukuran "TAPAK" yakni sepanjang tapak kaki dari ujung tumit sampai ujung jari kaki. Jumlah kelipatan tapak yang ditentukan didasarkan pada kelipatan sloka wawaran dari ASTAWARA (sri-indra-guru-yama-rudra-brahma-kala-uma) yang diakhiri pengurip "a tapak ngandang" yakni selebar tapak kaki. Penentuan setiap kelipatan disesuaikan dengan fungsi bangunan yang sejalan dengan makna ungkapan dari setiap wawaran, seperti: 
  • kelipatan sri untuk jarak ke bangunan lumbung/tempat padi (padi sebagai simbul Dewi Sri); 
  • kelipatan brahma untuk jarak paon/dapur (api sebagai saktinya Dewa Brahma); 
  • kelipaatn guru untuk tempat bangunan pemujaan leluhur (Bhatara Hyang Guru) dst .

Dimensi bangunan digunakan satuan "RAI" (ukuran penampang tiang) yang diturunkan dari ruas-ruas jari, yakni: tiga ruas, tiga setengah ruas dan empat ruas. 
Besaran ini digunakan sebagai dasar ukuran pada penampang tiang untuk tiang kecil sampai pada tiang terbesar. Sebagaimana kelipatan ukuran lainnya, ukuran bagian-bagian bangunan dari kelipatan rai juga ditambah pelebih untuk pengurip.

Ukuran pengurip juga di ambil dari bagian-bagian jari tangan dengan istilahnya masing-masing, seperti: 
  • a guli (jarak ujung jari ke ruas pertama jari), 
  • a guli madu (jarak ruas pertama ke ruas kedua jari) , 
  • a useran tujuh (satu pusaran telunjuk), 
  • a nyari (selebar jari). 
Pengurip dapat diambil dari lebar setiap jemari dan pecahan panjang segi penampang tiang, yaitu: seperempat, 1/2, tiga perempat panjang segi penampang (¼, ½, ¾ rai).

Pada konsepnya ukuran gegulak ialah sisi refleksi dari perasaan warga Bali untuk jaga keserasian dan kesetimbangan jalinan manusia dengan semesta alam, sesuai pilosofi Tri Hita Karana. Arsitektur sebagai lingkungan bikinan (satu bentuk dari alam baru) diinginkan bisa menaungi dan mewadahi rutinitas aktornya seperti semesta alam. Karena itu ukuran fisik (mekanisme pembagian) "alam baru" ini tak pernah lepas dari ukuran angota badan kepala keluarga atau pemiliknya.

Gegulak sebagai mekanisme pembagian tradisionil yang paling tentukan pada proses pengerjaan arsitektur di Bali menyebabkan diwujudkannya arsitektur tempat tinggal dengan pembagian yang paling beragam, dan secara partikular benar-benar menempel pada pemakainya.